Video : Mengenal Pers Mahasiswa

hamparan.info – Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) WARTA IAIN Pontianak, Indah Chandika Anisyavira, menuturkan LPM WARTA adalah wadah untuk mencari ilmu dan pengalaman lapangan yang benar-benar nyata dalam hal ilmu jurnalistik pers kampus.

“Semenjak masuk ke LPM WARTA saya dituntut untuk lebih peka terhadap lingkungan. Ini membuat saya sadar bahwa perduli itu perlu,” tutur Indah Chandika Anisyavira.

Bagi dia, di LPM WARTA itulah membentuk karakter kepribadian seseorang. Itu sebabnya, dia mengajak kepada seluruh mahasiswa IAIN Pontianak, Kalimantan Barat, untuk ikut belajar bersama di LPM WARTA.

“Banyak mendapatkan informasi di dalam maupun di luar kampus yang belum tentu diketahui orang lain. Bertemu dengan orang-orang yang paham di bidang penulisan, memiliki pemikiran yang luas dengan pengalaman-pengalaman yang luar biasa,” ujar Indah Chandika Anisyavira.

Indah Chandika Anisyavira berujar,” Belum tentu semua orang bisa mendapatkan pengalaman seperti ini dan saya merasa sangat beruntung bisa bergabung dan berproses belajar bersama kawan-kawan di LPM WARTA,”.

 

 

 

Mereka yang Nangis, Senang dan Berang di balik Aksi Simpatik Tingginya UKT

Aksi Simpatik yang dilakukan sejumlah mahasiswa IAIN Pontianak atas kenaikan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) mencuri perhatian civitas akademika IAIN Pontianak, Senin 15 Juli 2019. Aksi tersebut pun ditanggapi beragam, mulai membuat berang pejabat kampus hingga menghibur petani yang kebetulan mengurus pendaftaran anaknya. Terlepas dari hal tersebut, aksi yang dibalut dengan parade puisi dan teatrikal itu berjalan aman tanpa tindakan anarkisme berlebihan.

hamparan.info – IMAM MAKSUM –

Hilir mudik mahasiswa mengawali Senin pagi itu (15/7). Seperti hari-hari biasa, Gazebo IAIN Pontianak mulai dipenuhi mahasiswa. Namun tampak berbeda kali itu, sejumlah mahasiswa sibuk menyiapkan atribut aksi. Mulai dari pengeras suara, kertas karton bernarasi dan sebuah sepanduk besar bertulisan “Aksi Simpatik Parade Amal Puisi atas Tingginya UKT”.

Awalnya massa aksi telah mendapatkan izin dari satuan pengamanan (satpam) untuk melaksanakan aksi di depan Gedung Biro AUAK. Mengambil sebagian bahu jalan utama kampus. Namun, kemudian pihak Biro AUAK menampik. Mereka pun disarankan untuk melakukan aksi di Gazebo. Di bawah instruksi koordintaor aksi, bergeserlah massa tersebut ke Gazebo.

Sekitar pukul 09:00 WIB, aksi dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dipimpin Koordinator lapangan, Zamal Saputra, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Ada sekitar 20 peserta aksi yang berdiri pun bernyanyi.

Zamal Saputra  menetes air matanya, seraya menyampaikan orasi. “Aksi ini adalah ekspresi kami sebagai mahasiswa menanggapi kenaikan biaya UKT mahasiswa baru,” ujarnya.

Peserta aksi kemudian secara bergiliran membacakan puisinya. Diiringi suara gitar. Diselingi penyampaian orasi hingga aksi teatrikal pocong dan makam.

***

Aksi Simpatik memancing perhatian civitas akademika. Berdasarkan pengamatan, mahasiswa-mahasiswa mendekat ke titik aksi. Melihat dan mendengar tuntutan yang digaungkan.

Bahkan beberapa calon mahasiswa baru turut menyaksikan aksi mahasiswa tersebut. Salah satunya Irma Damayanti. Hari itu dia ke kampus untuk mengurus berkas UKT.

Calon mahasiswa asal Teluk Batang Kayong Utara duduk di trotoar jalan. Ia beserta satu orang temannya mengaku memperhatikan aksi mahasiswa.

Irma Damayanti berpendapat setuju dengan tuntutan mahasiswa dalam aksi tersebut. “Alhamdulillah merasa terhibur (dengan adanya pembacaan puisi) liat antusias kakak tingkat, gimana ya pokoknya suke lihatnya,” ujar Irma Damayanti. Kata dia, selama tidak ada keributan dan tidak ada kericuhan serta masih dalam batas normal hal tersebut bisa dimaklumi.

“Lihat semangat kakak-kakak jadi ikut menular semangatnya,” tutur Irma Damayanti saat diwawancara wartaiainpontianak.com.

Irma Damayanti baru tahu isu kenaikan UKT setelah diinformasikan seniornya. “Dibilang UKT sekarang naik karena IAIN mau berubah statusnya menjadi UIN,” tutur Irma Damayanti menceritakan ulang.

Irma Damayanti adalah calon mahasiswa baru yang mendaftar jalur SPMB. “Untuk biaya UKT belum tahu karena masih menunggu pengumuman kelulusan,” katanya. 

***

Mata Misna (45) fokus melihat aksi mahasiswa. Perempuan asal Kabupaten Kayong Utara itu tidak menyangka ada aksi mahasiswa. Ia mengaku datang ke IAIN Pontianak untuk menemani anaknya mengambil nilai. “Anak saya sudah tamat setahun yang lalu. Hari ni mau ngambil nilai sekaligus nemankan tetangga mendaftarkan anaknya kuliah,” kata Misna.

Terkait biaya UKT IAIN Pontianak yang mengalami kenaikan di beberapa golongan, Misna tidak setuju dengan kebijakan  tersebut. “Pemerintah itu yang memilih rakyat, jadi harus meperhatikan rakyat, jangan memerhatikan diri sendiri,” tuturnya.

Jika uang kuliah mahal, kata Misna, pendidikan hanya diperuntukkan bagi anak pegawai negeri atau pejabat. “Kalau bagi petani, jika anak hanya satu yang disekolah iya masih mampu, tapi kalau banyak yang mau disekolahkan, SD, SMP, SMA, kuliah. Bagi yang tak mampu maka anak akan terbengkalai,” ujarnya.

Misna menuturkan siswa tamat SMA tidak bisa jadi pegawai. “Tamat SD jadi alas telapak kaki,” kata dia. “Macam kami di Kayong Utara melamar kerja semacam anjing garuk kepala, masuk situ salah, tidak diterima, masuk situ salah tak mau yang nerima,” ujarnya kesal.

Bagi Misna, punya anak tidak sampai dibangku kuliah itu jadi serba salah. “Dak kuliah tak ada kerja, belum lagi yang tamat kuliah jak susah cari kerja,” tutur Misna yang berprofesi petani itu.

Misna sependapat dengan tuntutan aksi mahasiswa perihal UKT. “Jika dapat itu biayanya seperti awal. Karena inikan sudah negeri, setiap negeri jangan sampai dinaikkan biaya sekolah tu. Karena bukan swasta. Swasta sesuai kalau mahal karena membangun sendiri,” katanya

Hamnah (49) tetangga Misna yang juga turut menyaksikan aksi simpatik mahasiswa mengaku senang. Ia berdua pun duduk di trotoar memperhatikan aksi yang berlangsung. “Kami mendukung mahasiswa (menuntut UKT turun),” katanya.

Meski masih menunggu pengumuman kelulusan anaknya, Hamnah terkejut dengan biaya beberapa golongan UKT yang mengalami kenaikan. “Kemampuan saya untuk menguliahkan anak itu sekitaran 1,5 sampai 1,7 juta persemesternye,” kata dia. Namun apabila kenyataan biaya kuliah anaknya lebih tinggi dari prediksinya maka ia mengaku keberatan.  

“Biaya semester seharusnya lebih memperhatikan kami, apalagi kami dari kampung, kami juga memikirkan biaya hidup anak saya di sini, kebutuhan kuliah, pakaian,” ucap Hamnah.

***

Firdaus Ahcmad, Warek I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Pontianak mengaku mensuport aksi simpatik tersebut. “Artinya kawan-kawan senior ini tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga memikirkan adek-adeknya,” kata Firdaus Ahcmad. Namun dia belum menangkap dasar dari aksi tersebut dengan alasan kebijakan UKT untuk mahasiswa baru bukan untuk mahasiswa lama. “Kenapa  mahasiswa (lama) yang bicara,” tuturnya.

Menurut Firdaus Ahcmad, mahasiswa senior yang terkoordinir dalam organisasi kemahasiswaan bisa ikut berdialog dalam pengambilan kebijakan ini sehingga membantu sosialisasi UKT ini kepada mahasiswa baru.

Mantan Senat Mahasiswa IAIN Pontianak priode 89 ini mengatakan penaikan UKT bukan kebijakan yang serta merta. Tapi diawali dengan kajian-kajian tentang kebutuhan pengelolaan pendidikan. “Pengelolaan pendidikan tidak ada yang murah sekarang. Harga semua pada naik. Tahun ini kita tidak mungkin membayar honor dosen non PNS dan dosen luar biasa itu sama dengan besarnya tahun lalu,” ujarnya saat diwawancara WARTA Senin, (15/7).

Terkait pengelolaan uang UKT itu, Firdaus Ahcmad berkomitmen memperbaiki fasilitas pendidikan. “Sedikit demi sedikit. Yang belum ada AC-nya akan kita adakan,” katanya.

Bersamaan dengan itu pula, pihak lembaga siap meningkatkan kualitas dosen. Firdaus Ahcmad bilang kalau ada dosen yang kurang berkualitas bisa langsung lapor kepadanya.“ “Kita langsung evaluasi,” ujarnya. Namun menurut Warek I itu, sampai saat ini belum ada laporan dosen yang kurang kualitasnya.

Terkait penentuan golongan UKT mahasiswa baru, ketepat sasaran ditentukan berdasarkan pengajuan mahasiswa. Syarat calon mahasiswa baru mendaftar ulang yaitu harus menyertakan surat dukung UKT, rekening litrik, penghasilan orang tua. “Nah dari situ kita rapat untuk menentukan. Kita cek benar tidak ini,” katanya.

Perihal UKT IAIN Pontianak itu, Firdaus Ahcmad menegaskan bahwa masih tergolong rendah. “Murah dari (kampus) yang lain, saya sudah tanya sana-sini,” ujarnya.

Kapasitas Pers Mahasiswa Idealis dan Intelektual

Foto bersama anggota LPM WARTA tahun 2018

hamparan.info – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) WARTA IAIN Pontianak akan menyelenggarakan Musyawarah Besar (Mubes) ke-15 pada Jumat hingga Minggu, 5-7 Juli 2019. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Gedung UPT Teater Biro AUAK IAIN Pontianak.

Ketua Umum LPM WARTA, Farli Afif mengatakan sebagai agenda penutup tiap periode, Mubes ini rutin dilakukan setiap tahunnya menandakan masa kepengurusan telah berakhir dan beralih kepada kepengurusan yang baru sebagai bentuk regenerasi kepengurusan.

Mubes kali ini mengangkat tema:Meningkatkan kapasitas pers mahasiswa yang idealis dan intelektual. Menurut Farli Afif, tema ini diangkat sebagai bentuk tanggapan dalam menyikapi revolusi industri 4.0.

“Hal ini perlu adanya peningkatan kapasitas insan pers mahasiswa khususnya seluruh anggota LPM WARTA IAIN Pontianak,” ujar Farli Afif, Rabu 3 Juli 2019.

Mubes LPM WARTA ke-15 ini akan berlangsung mulai 5 Juli 2019 hingga 7 Juli 2019. Agenda tersebut akan dibuka oleh Wakil Rektor III Dr. Abdul Mukti Ro’uf, MA pada Jumat, 5 Juli 2019 mendatang.

Kegiatan ini mengundang seluruh anggota LPM WARTA IAIN Pontianak, seluruh perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) se-IAIN Pontianak, Presiden Mahasiswa, dan Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama IAIN Pontianak.

Farli Afif menambahkan digelarnya Mubes ini tidak lepas dari poin yang musti dicapai. Di antaranya, mengedukasi anggota baru LPM WARTA terkait agenda Mubes. Bersama-sama meningkatkan pemahaman mengenai esensi dari mubes. “Agar regulasi yang ditetapkan pada mubes bisa dipraktikan dan bukan hanya diindahkan. Kemudian bagaimana menindaklanjuti Pasca diadakannya mubes.

Farli Afif mengatakan sebagai sebuah media pergerakan mahasiswa, LPM WARTA terus berupaya dalam menyuarakan aspirasi masyarakat kampus IAIN Pontianak. Tak hanya itu saja, menurut dia produktifitas juga menjadi hal penting.

“Maka dari itu perlu peningkatan potensi kemampuan para anggota baik secara pemikiran kritis maupun keterampilan. Bahkan tetaplah mengedepankan prinsip independen,”

Bagi-bagi Inspirasi Menulis dari Mahasiswa IAIN Pontianak

Menulis itu mudah

hamparan.info – Banyak hal positif yang dapat dilahirkan dalam aktivitas menulis. Selain membantu menyampaikan informasi, proses menulis juga membantu merawat ingatan dan nalar seorang penulis.

Lembaga Pers Mahasiswa IAIN Pontianak melalui kanalnya, WARTA TV , Segmen Bagi-Bagi Inspirasi episode 1 mengangkat judul Menulis untuk Keabadian. Mewawancarai Sulistio, Mantan Ketua Divisi Penerbitan, Pemimpin Redaksi WARTA priode 2017-2018, Redaktur Pelaksana WARTA 2018-2019. Juga pendapat Imam Maksum, Pemimpin Redaksi WARTA 2018-2019.

Pada video tersebut ditampilkan bagaimana makna menulis yang diutarakan oleh dua mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, IAIN Pontianak. Mereka berdua juga berbagi tips dan trik bagaimana mulai menulis di era millenial sekarang.

 

 

Pembekalan PBM Dekan FUAD Harap Mahasiswa Lebih Aktif

panitia Pekan Bakti Mahasiswa adakan kegiatan pembekalan untuk mahasiswa FUAD 2018/2019 di Gedung Rektorat lantai 4 IAIN Pontianak pada Sabtu pagi 26 Januari 2019

wartaiainpontianak.com – Panitia Pekan Bakti Mahasiswa (PBM) adakan kegiatan pembekalan untuk mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) 2018/2019 di Gedung Rektorat lantai 4 pada Sabtu pagi 26 Januari 2019.

Walaupun acara diadakan tidak sesuai pada jam yang telah ditentukan atau di rondown acara yaitu pada jam 08.00 WIB. Akan tetapi peserta PBM tetap antusias . Acara ini dihadiri oleh Dekan FUAD IAIN Pontianak Dr. ismail ruslan, S.Ag, M.Si dan wakil Dekan III Drs. H marsih Muhammad , M.Ag.

Pembekalan PBM ini banyak menuai harapan baik dari dekan fakultas maupun panitia untuk seluruh mahasiswa dan mahasiswi FUAD. Abdul hamid selaku ketua panitia mengatakan target panitia yakni 400 mahasiswa sebagai peserta PBM FUAD. “Sedangkan defektif mahasiswa yang ada difakultas FUAD ini khususnya mahasiswa baru yaitu ada 450 mahasiswa dan yang ikut atau yang baru daftar sekarang yaitu ada 195 peserta,” ujarnya.

Abdul Hamid mengatakan panitia sudah berusaha maksimal mempersiapkan kegiatan mulai dari menyebar informasi-informasi baik dari grup dan media sosial lainnya. “Harapan kami juga melakukan pekan bakti mahasiswa ini mengabdi kepada masyarakat serta menjalankan tri darma perguruan tinggi. Dan manfaatnya kalian juga tidak canggung lagi jika nanti menghadapi KKL dan sebagainya,” ujarnya.

Abdul Hamid mengatakan kegiatan ini benar-benar mengajak seluruh mahasiswa FUAD untuk ikut serta di dalamnya. Sementara Ketua DEMA FUAD , Muhammad Nafii menuturkan bahwa ada dua acara besar di tahun ini, yakni PBM dan G-FESH. “Tanpa adanya kawan kawan beserta adanya ormawa FUAD dan seluruh keluarga FUAD yang ada di IAIN Pontianak ini tidak akan mungkin acara ini terlaksanakan,” ucapnya.

Maka dari itu, kata Nafii, DEMA mengajak kerjasamanya menyukseskan agenda yang mengatas namakan FUAD. “Kali ini kita ada agenda besar yaitu PBM dan G-FESH dan G-FESH ini merupakan agenda perdana yang diadakan oleh DEMA FUAD kami berharap untuk seluruh elemen-elemen mahasiswa FUAD untuk ikut serta dalam agenda agenda ini” tutur Nafi’i.

Wakil Presiden mahasiswa IAIN Pontianak mengatakan dulunya PBM ini diadakan oleh DEMA Institut, akan tetapi di tahun dirubah konsepnya menjadi ranahnya DEMA fakultas. “Saya pikir ini lebih seru karena apa kawan-kawan fakultas FUAD masih belum ada yang kenal kawan satu fakultasnya bahkan kawan-kawan ada yang tidak kenal dengan DEMA fakultasnya.

Badrus Soleh menegaskan harapan dengan adanya PBM peserta bisa kenal teman satu fakultasnya. “Kenapa kita gak bisa kenal satu rumah tangga kita dan palah mau kenal ke rumah tangga orang lain. Kenali dulu fakultas kita, visi misi fakultas kita dan tujuan fakultas kita baru boleh mengenal yang lain,” kata Badrus Soleh.

Sekaligus membuka kegiatan pembekalan PBM, Dekan FUAD menyebutkan setelah diadakan rapat kerja dengan pengurus DEMA banyak sekali harapan mengenai aktivitas kegiatan mahasiswa. “Itu diikuti oleh seluruh elemen mahasiswa FUAD. Namun faktanya ada beberapa kegiatan mahasiswa hanya sebagian saja yang ikut serta pada kegiatan tersebut,” tutur Ismail Ruslan.

Ismail Ruslan mengatakan bahwa di organisasi FUAD tidak boleh ada diskriminasi tentang adanya pengikutan organisasi eksternal. Menurutnya, jika sudah mengatas namakan organisasi FUAD alangkah lebih baiknya fokus kepada satu organisasi tersebut. “Tidak boleh ada mengatas namakan organisasi eksternal. Karena kita di sini merupakan sebuah keluarga jadi jangan sampai terjadi diskriminasi tersebut,” ujarnya.

Reporter: Fitriani Purbowati Ningsih

LPM Warta Kukuhkan 26 Anggota Baru

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta IAIN Pontianak mengukuhkan 26 anggota baru pada kegiatan Journalist Camp

hamparan.info – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta IAIN Pontianak mengukuhkan 26 anggota baru pada kegiatan Journalist Camp 2018. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pantai Teluk Mak Jantu, Teluk Karang Sedau, Kota Singkawang pada Sabtu hingga Senin, 22-24 Desember 2018.

26 anggota baru LPM Warta itu adalah mahasiswa yang berhasil mengikuti proses open recruitmen reporter Warta sejak  September lalu. Mereka adalah peserta yang aktif mengikuti pelatihan dan mampu bertahan hingga mengikuti kegiatan pengukuhan.

BACAAda Lomba Karya Jurnalistik, Yok Ikut Daftar

Indah Chandika Anyshavira, Kepala Devisi Pengembangan dan Pemberdayaan Anggota (P2A) LPM Warta menuturkan anggota baru yang lolos telah menjalani proses mendaftar hingga proses pengukuhan. “Sebelumnya mereka telah lolos tahap wawancara, lalu mengikuti secara aktif proses pelatihan terkait dunia kejurnalistikan dalam PJTD ( Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar),” tutur Indah Chandika Anyshavira.

Indah Chandika mengatakan anggota baru sebagai penerus LPM itu sudah diberikan pelatihan bagaimana belajar penulisan yang baik dan benar. “Tak lupa pula materi mengenai ideologi pers mahasiwa pun telah disampaikan,” tuturnya.

BACAMengabdi, Mahasiswa KKL IAIN Pontianak Bikin Ini

Indah Chandika mengatakan bahwa anggota baru yang dikukuhkan merupakan mahasiswa pilihan yang sudah dipertimbangkan. “Yakni dari 78 peserta yang mendaftar terpilih lah 26 orang yang menjadi pilihan,” ucapnya.

Journalist Camp LPM Warta 2018 tahun ini bertajuk Mencetak Pers Mahasiswa Beretika Cerdas dan Bertanggung Jawab. Yakni pengukuhan angkatan ke -15 LPM Warta.

BACAWujudkan Pilkada 2018 Berkualitas Berintegritas

Ketua Umum LPM Warta, Farli Afif mengatakan bahwa pengukuhan adalah agenda tahunan dan merupakan momen sakral. ” Sebagai tahap final apakah mahasiswa yang telah mendaftar dan berproses bersama LPM layak untuk menjadi anggota dan netabenenya regenerasi LPM,” tutur Farli Afif.

Dia menuturkan anggota LPM tahun ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. “Seiring bertambahnya mahasiswa di IAIN, dan makin bertambah juga ketertarikannya masuk UKM LPM,” ucapnya.

BACAPenghijauan di Kawasan Bekas Tambang Emas

Menurut dia bagian terpenting adalah bagaimana anggota LPM mempunyai mental jurnalis pers mahasiswa yang independen dan memegang teguh kode etik jurnalistik. “Sebagai media kampus, tentu kami ingin meningkatkan pemberitaan yang mengkritisi kampus, tidak hanya melulu mengangkat soal seremonial yang cenderung memuji kampus, tapi hal-hal yang perlu diangkat pun turut diperhatikan demi kemajuan kampus,” kata Farli Afif.

Aktivis Mahasiswa Bahas Nasib Pemuda

hamparan.info – Sejumlah orang duduk melingkar di sebuah tempat. Mata mereka menatap tajam. Pertanyan demi pertanyaan terlontar. Itulah diskusi. Digelar oleh berbagai organisasi mahasiswa ini menggelar dialog kepemudaan di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Kalimantan Barat. Tema diskusinya adalah menyoal Mahasiswa Menjadi Agen Perubahan untuk Indonesia.

“Di sini, kita bisa mengasah intelektual, diskusi, menulis dan membaca,” tutur Wakil Ketua DEMA Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Pontianak, Naffi’i, Selasa, 30 Oktober 2018.

Di tempat yang sama, perwakilan dari organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Nursalin, mengajak pemuda harus memiliki prinsip hidup. “Pemuda memiliki karakteristik, naluri kepahlawanan, keberanian, kesabaran dan optimisme,” kata Nursalin.

Sedangkan, perwakilan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Zainur Rifky berbagi kisah tentang perjuangan Budi Utomo, dalam membela Islam.

“Pemuda hari ini harus mewakili pejuang para pemuda zaman dulu, seperti Budi Utomo,” kata Zainur Rifky. “Para pejuang melawan penjajahan, sebelum terbentuk Indonesia yang sekarang. Jadi para pemuda harus menjaga kesatuan NKRI,”.

Pandangan yang menarik juga disampaikan oleh Ulil Azmi, perwakilan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Ia mengatakan, peran pemuda saat ini sudah sangat luas, di antara menjadi suara dari masyarakat.

“Pemuda masa depan harus menyiapkan bonus demografi. Selain itu, pemuda juga harus mementingkan kepentingan umum,” ujar Ulil Azmi.

Terakhir, materi dialog dikemukan oleh Desi Fitriani dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia menyoroti mundurnya peran dan fungsi di era ini. “Pemuda zaman sekarang, hanya sebagai sosok pemuda. Tapi bukan, sebagai agen perubahan,” kata Desi Fitriani.

Desi Fitriani berujar, pemuda adalah orang yang mempunyai ide-ide bagus untuk perkembangan Indonesia. (slm/boo)

Mengabdi, Mahasiswa KKL IAIN Pontianak Bikin Ini

Ketua kelompok KKL Integratif IAIN Pontianak bersama seorang warga Dusun Parit Pangeran Desa Tanjung Saleh

hamparan.info – Sebagai bentuk implementasi poin ketiga dari Tri Darma Perguruan Tinggi, Pengabdian Kepada Masyarakat, mahasiswa Institut Agama Islam negeri (IAIN) Pontianak yang tergabung dalam kelompok dua program KKL Integratif 2018 membuat papan nomor rumah di Dusun Parit Pangeran Desa Tanjung Saleh. Pembuatan sekaligus pemasangan nomor rumah dilaksanakan baru-baru ini.

Menurut ketua kelompok 2 KKL Integratif IAIN Pontianak, Nahriansyah, tujuan dari diadakannya program kerja pembuatan nomor rumah yaitu untuk membantu warga dalam administrasi di Desa. “Setidaknya dengan pemasangan nomor rumah ini dapat membantu dalam hal pendataan di desa atau hal lain yang berkenaan dengan itu,” kata Nahriansyah.

Nahriansyah menjelaskan ada beberapa alasan mengapa kelompoknya merealisasikan program pembuatan nomor rumah. Sebab pertama, kata Nahriansyah, karena melihat kondisi rumah warga yang hanya separuh dipasang nomor rumah. “Ada beberapa nomor rumah yang tertempel di dinding depan, namun masih banyak yang tidak ada,” kata Nahriansyah.

Menurut Nahriansyah, pemasangan nomor rumah ini dilakukan karena melihat beberapa nomor rumah warga kondisinya sudah lama. “Nomor rumah sebagaian sudah mulai rusak dan rapuh, oleh karena itu muncul inisiatif dari kawan-kawan untuk segera merealisasikan progja ini,” kata Nahriansyah

Kepala Sekolah MIS Asasul Mubtadiin, Matsum S,Pd I, sekaligus tokoh masyarakat Dusun Parit Pangeran menyambut baik program tersebut. Dia mengatakan masyarakat mendukung secara penuh bentuk program yang telah disiapkan mahasiswa KKL untuk dilaksanakan di Dusun Parit Pangeran. “Pembuatan papan nomor rumah sangat membantu masyarakat dusun, karena menimbang mayoritas rumah penduduk yang belum memiliki papan nomor rumah,” kata Matsum S,Pd I .

Matsum S,Pd I menjelaskan, bahwa sebelumnya sudah ada papan nomor rumah yang dibuat oleh mahasiswa KKN beberapa tahun yang lalu. “Namun karena sudah lama, papan itu rusak dan rapuh, sehingga sangat pas program pembuatan papan nomor rumah yang diadakan mahasiswa KKL Integratif ini,” kata Matsum S,Pd I.

Matsum berharap segala bentuk program yang telah dilaksanakan mahasiswa KKL bermanfaat bagi masyarakat dusun. “Termasuk progja ini (papan nomor rumah), diharapkan bisa berguna dalam kehidupan sehari-hari warga,”kata Matsum S,Pd I, dalam keterangan resminya yang diterima.