Mereka yang Nangis, Senang dan Berang di balik Aksi Simpatik Tingginya UKT

  • Whatsapp
Aksi Simpatik Parade Amal Puisi

Aksi Simpatik yang dilakukan sejumlah mahasiswa IAIN Pontianak atas kenaikan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) mencuri perhatian civitas akademika IAIN Pontianak, Senin 15 Juli 2019. Aksi tersebut pun ditanggapi beragam, mulai membuat berang pejabat kampus hingga menghibur petani yang kebetulan mengurus pendaftaran anaknya. Terlepas dari hal tersebut, aksi yang dibalut dengan parade puisi dan teatrikal itu berjalan aman tanpa tindakan anarkisme berlebihan.

hamparan.info – IMAM MAKSUM –

Muat Lebih

banner 300250

Hilir mudik mahasiswa mengawali Senin pagi itu (15/7). Seperti hari-hari biasa, Gazebo IAIN Pontianak mulai dipenuhi mahasiswa. Namun tampak berbeda kali itu, sejumlah mahasiswa sibuk menyiapkan atribut aksi. Mulai dari pengeras suara, kertas karton bernarasi dan sebuah sepanduk besar bertulisan “Aksi Simpatik Parade Amal Puisi atas Tingginya UKT”.

Awalnya massa aksi telah mendapatkan izin dari satuan pengamanan (satpam) untuk melaksanakan aksi di depan Gedung Biro AUAK. Mengambil sebagian bahu jalan utama kampus. Namun, kemudian pihak Biro AUAK menampik. Mereka pun disarankan untuk melakukan aksi di Gazebo. Di bawah instruksi koordintaor aksi, bergeserlah massa tersebut ke Gazebo.

Sekitar pukul 09:00 WIB, aksi dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dipimpin Koordinator lapangan, Zamal Saputra, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Ada sekitar 20 peserta aksi yang berdiri pun bernyanyi.

Zamal Saputra  menetes air matanya, seraya menyampaikan orasi. “Aksi ini adalah ekspresi kami sebagai mahasiswa menanggapi kenaikan biaya UKT mahasiswa baru,” ujarnya.

Peserta aksi kemudian secara bergiliran membacakan puisinya. Diiringi suara gitar. Diselingi penyampaian orasi hingga aksi teatrikal pocong dan makam.

***

Aksi Simpatik memancing perhatian civitas akademika. Berdasarkan pengamatan, mahasiswa-mahasiswa mendekat ke titik aksi. Melihat dan mendengar tuntutan yang digaungkan.

Bahkan beberapa calon mahasiswa baru turut menyaksikan aksi mahasiswa tersebut. Salah satunya Irma Damayanti. Hari itu dia ke kampus untuk mengurus berkas UKT.

Calon mahasiswa asal Teluk Batang Kayong Utara duduk di trotoar jalan. Ia beserta satu orang temannya mengaku memperhatikan aksi mahasiswa.

Irma Damayanti berpendapat setuju dengan tuntutan mahasiswa dalam aksi tersebut. “Alhamdulillah merasa terhibur (dengan adanya pembacaan puisi) liat antusias kakak tingkat, gimana ya pokoknya suke lihatnya,” ujar Irma Damayanti. Kata dia, selama tidak ada keributan dan tidak ada kericuhan serta masih dalam batas normal hal tersebut bisa dimaklumi.

“Lihat semangat kakak-kakak jadi ikut menular semangatnya,” tutur Irma Damayanti saat diwawancara wartaiainpontianak.com.

Irma Damayanti baru tahu isu kenaikan UKT setelah diinformasikan seniornya. “Dibilang UKT sekarang naik karena IAIN mau berubah statusnya menjadi UIN,” tutur Irma Damayanti menceritakan ulang.

Irma Damayanti adalah calon mahasiswa baru yang mendaftar jalur SPMB. “Untuk biaya UKT belum tahu karena masih menunggu pengumuman kelulusan,” katanya. 

***

Mata Misna (45) fokus melihat aksi mahasiswa. Perempuan asal Kabupaten Kayong Utara itu tidak menyangka ada aksi mahasiswa. Ia mengaku datang ke IAIN Pontianak untuk menemani anaknya mengambil nilai. “Anak saya sudah tamat setahun yang lalu. Hari ni mau ngambil nilai sekaligus nemankan tetangga mendaftarkan anaknya kuliah,” kata Misna.

Terkait biaya UKT IAIN Pontianak yang mengalami kenaikan di beberapa golongan, Misna tidak setuju dengan kebijakan  tersebut. “Pemerintah itu yang memilih rakyat, jadi harus meperhatikan rakyat, jangan memerhatikan diri sendiri,” tuturnya.

Jika uang kuliah mahal, kata Misna, pendidikan hanya diperuntukkan bagi anak pegawai negeri atau pejabat. “Kalau bagi petani, jika anak hanya satu yang disekolah iya masih mampu, tapi kalau banyak yang mau disekolahkan, SD, SMP, SMA, kuliah. Bagi yang tak mampu maka anak akan terbengkalai,” ujarnya.

Misna menuturkan siswa tamat SMA tidak bisa jadi pegawai. “Tamat SD jadi alas telapak kaki,” kata dia. “Macam kami di Kayong Utara melamar kerja semacam anjing garuk kepala, masuk situ salah, tidak diterima, masuk situ salah tak mau yang nerima,” ujarnya kesal.

Bagi Misna, punya anak tidak sampai dibangku kuliah itu jadi serba salah. “Dak kuliah tak ada kerja, belum lagi yang tamat kuliah jak susah cari kerja,” tutur Misna yang berprofesi petani itu.

Misna sependapat dengan tuntutan aksi mahasiswa perihal UKT. “Jika dapat itu biayanya seperti awal. Karena inikan sudah negeri, setiap negeri jangan sampai dinaikkan biaya sekolah tu. Karena bukan swasta. Swasta sesuai kalau mahal karena membangun sendiri,” katanya

Hamnah (49) tetangga Misna yang juga turut menyaksikan aksi simpatik mahasiswa mengaku senang. Ia berdua pun duduk di trotoar memperhatikan aksi yang berlangsung. “Kami mendukung mahasiswa (menuntut UKT turun),” katanya.

Meski masih menunggu pengumuman kelulusan anaknya, Hamnah terkejut dengan biaya beberapa golongan UKT yang mengalami kenaikan. “Kemampuan saya untuk menguliahkan anak itu sekitaran 1,5 sampai 1,7 juta persemesternye,” kata dia. Namun apabila kenyataan biaya kuliah anaknya lebih tinggi dari prediksinya maka ia mengaku keberatan.  

“Biaya semester seharusnya lebih memperhatikan kami, apalagi kami dari kampung, kami juga memikirkan biaya hidup anak saya di sini, kebutuhan kuliah, pakaian,” ucap Hamnah.

***

Firdaus Ahcmad, Warek I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Pontianak mengaku mensuport aksi simpatik tersebut. “Artinya kawan-kawan senior ini tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga memikirkan adek-adeknya,” kata Firdaus Ahcmad. Namun dia belum menangkap dasar dari aksi tersebut dengan alasan kebijakan UKT untuk mahasiswa baru bukan untuk mahasiswa lama. “Kenapa  mahasiswa (lama) yang bicara,” tuturnya.

Menurut Firdaus Ahcmad, mahasiswa senior yang terkoordinir dalam organisasi kemahasiswaan bisa ikut berdialog dalam pengambilan kebijakan ini sehingga membantu sosialisasi UKT ini kepada mahasiswa baru.

Mantan Senat Mahasiswa IAIN Pontianak priode 89 ini mengatakan penaikan UKT bukan kebijakan yang serta merta. Tapi diawali dengan kajian-kajian tentang kebutuhan pengelolaan pendidikan. “Pengelolaan pendidikan tidak ada yang murah sekarang. Harga semua pada naik. Tahun ini kita tidak mungkin membayar honor dosen non PNS dan dosen luar biasa itu sama dengan besarnya tahun lalu,” ujarnya saat diwawancara WARTA Senin, (15/7).

Terkait pengelolaan uang UKT itu, Firdaus Ahcmad berkomitmen memperbaiki fasilitas pendidikan. “Sedikit demi sedikit. Yang belum ada AC-nya akan kita adakan,” katanya.

Bersamaan dengan itu pula, pihak lembaga siap meningkatkan kualitas dosen. Firdaus Ahcmad bilang kalau ada dosen yang kurang berkualitas bisa langsung lapor kepadanya.“ “Kita langsung evaluasi,” ujarnya. Namun menurut Warek I itu, sampai saat ini belum ada laporan dosen yang kurang kualitasnya.

Terkait penentuan golongan UKT mahasiswa baru, ketepat sasaran ditentukan berdasarkan pengajuan mahasiswa. Syarat calon mahasiswa baru mendaftar ulang yaitu harus menyertakan surat dukung UKT, rekening litrik, penghasilan orang tua. “Nah dari situ kita rapat untuk menentukan. Kita cek benar tidak ini,” katanya.

Perihal UKT IAIN Pontianak itu, Firdaus Ahcmad menegaskan bahwa masih tergolong rendah. “Murah dari (kampus) yang lain, saya sudah tanya sana-sini,” ujarnya.

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *