​Dampak Karhutla Hambat Kecerdasan dan Pertumbuhan Anak

hamparan.info – Kepala Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Didi Haryono mengingatkan,  Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang rawan terjadi kebakaran hutan, kebun dan lahan.

“Kita mengetahui bahwa kalimantan barat memiliki kondisi geografis yang memiliki bentangan 1 1/6 Pulau Jawa dengan luas daratan 110.000 km2,  serta  terdapat 14.680.790 ha lahan perkebunan dan pertanian, dan juga hamparan lahan gambut yang cukup luas di setiap wilayah Kalimantan Barat,” kata dia seusai gelar pasukan Operasi Bina Karuna Kapuas 2019  Kabupaten Kubu Raya, Rabu, 24 juli 2019.

Dia menjelaskan, kondisi geografis kalbar yang luas  menjadikan sebuah potensi bagi oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuka lahan dengan cara  membakar. Hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Terjadinya kebakaran hutan, kebun dan lahan di areal yang luas dapat menimbulkan dampak yang besar, munculnya kabut asap dapat merusak ​saraf otak, ​menghambat kecerdasan dan pertumbuhan anak-anak, ​menggangu aktifitas belajar anak di sekolah,  ​menimbukan penyakit infeksi saluran pernafasan, ​menghambat transportasi penerbangan, lalu lintas di darat dan di laut, ​menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Tahun 2015 merupakan fenomena terjadinya kebakaran hutan  terbesar kalimantan barat selama 5 tahun terakhir. data menyebutkan seluas 2,6 juta hektar lahan di kalbar terbakar dan sekitar 504.000 orang terutama anak-anak terkena ispa, hilangnya keragaman hayati, terganggunya aktivitas ekonomi  karena terjadinya pembatalan penerbangan baik internasional maupun domestik di mana terjadi hampir di sebagian pulau besar Indonesia khususnya Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Sebesar kurang lebih 220 triliyun rupiah kerugian ekonomi indonesia akibat karhutla. pada saat itu provinsi kalbar merupakan salah satu dari enam provinsi penyumbang asap terbesar di Indonesia,” katanya.

Data hotspot di Kalimantan Barat pada tahun 2018, terdapat 2.842 titik api, dengan luas lahan yang terbakar 1.152,51 ha, dan berhasil di padamkan seluas 852,78 ha atau setara 73,99%. Kabupaten Kubu Raya merupakan salah satu kabupaten yang menjadi penyumbang asap terbanyak di kalimantan barat, oleh karena itu pelaksanaan apel gelar pasukan tahun ini dilaksanakan di kabupaten kubu raya dengan harapan dapat meningkatkan kepedulian dan tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga wilayah kabupaten kubu raya dari terjadinya karhutla.

Hal ini tentunya perlu menjadi perhatian kita bersama baik pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mengantisipasi dan menanggulangi terjadinya karhutlah di tahun 2019 ini. Upaya penanggulangan karhutla dapat dilakukan dengan upaya preemtif antara lain pemetaan hot spot, deteksi dini, melakukan himbauan, melakukan sosialisasi kepada pihak perusahaan dan masyarakat, melakukan kegiatan koordinasi dengan instansi lain, memberdayakan peran bhabinkamtibmas dan babinsa serta kades/lurah sebagai kekuatan tiga pilar yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, memberdayakan peran tomas dan mendorong pemda melakukan upaya sesuai tupoksinya.

“Ini tentunya merupakan hasil dari kerjasama antara polri, tni dan seluruh elemen masyarakat yang peduli untuk mencegah terjadinya karhutla. Upaya preventif antara lain dengan melakukan patroli bersama, patroli udara, mendatangi tkp dan melakukan pemadaman bersama stake holders lainnya serta mengajak masyarakat dan perusahaan guna mengantisipasi kebakaran. kemudian melaksanakan gelar peralatan menghadapi operasi bina karuna di polda kalbar maupun di kantor gubernur, dengan melibatkan stake holders terkait dan elemen masyarakat yang peduli dengan pencegahan karhutla,” katanya.

Upaya gakkum dengan mendatangi tempat kejadian perkara , melakukan kegiatan lidik, sidik, saksi ahli, gelar perkara dan menyerahkan berkas, barang bukti dan tersangka ke jaksa penuntut umum. Terdata sepanjang tahun 2018 terdapat 29 kasus karhutla yang ditangani polda kalbar dan jajaran dengan tersangka sebanyak 39 orang dan 1 orang korban meninggal dunia akibat karhutla.

“Perlu kesadaran dari semua pihak pengguna lahan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. larangan ini sebagaimana telah di atur dalam undang-undang perkebunan maupun lingkungan hidup. masyarakat  yang membuka ladang dengan cara membakar harus dicarikan solusinya bagaimana mereka tetap dapat bercocok tanam dengan tidak membakar lahan. berikan solusi  yang berkaitan dengan sistem tanam dan permodalan yang tepat dan efisien,” katanya.

Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat tokoh pemuda dan instansi terkait, diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dalam mencegah dan menemukan solusi karhutla di Kalimantan Barat yang dapat menampung kepentingan dan kebutuhan semua pihak termasuk kebutuhan para petani ladang yang membuka lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

“Kami mengajak kepada seluruh peserta gelar pasukan dan semua segenap elemen masyarakat bersinergi, bersatu padu bahu membahu untuk memberikan solusi bagi permasalahan karhutla di provinsi kalimantan barat yang kita cintai ini. Berdayakan petugas patroli desa untuk cegah karhutla dan giat patroli dititik beratkan pada titik hotspot, jika menemukan titik api segera dipadamkan. laksanakan patroli terpadu tni, polri, manggala agni dan masyarakat peduli api serta mapping desa-desa yang berpotensi terjadinya karhutla,” kata dia.

Dia berpesan, kepada anggota yang terlibat Operasi Bina Karuna Kapuas-2019 agar melaksanakan operasi tersebut dengan ikhlas dan penuh rasa tanggung jawab serta dapat bekerja sama dengan komponen lainnya termasuk masyarakat sehingga tujuan operasi ini mewujudkan kalbar yang bebas dari asap  dapat berjalan dengan lancar dan aman.

Alam Menjaga Kita, jika . . .

hamparan.info – Pada Rabu 24 2019 pukul 07.50 WIB di Jalan Angkasa Pura II, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, mendadak ramai. Ada ribuan orang datang kesana. Apel Gelar Pasukan. Ini adalah event dalam rangka Bina Karuna Kapuas. 

Kepala Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Didi Haryono bertindak sebagai Inspektur Upacara itu. Pangdam XII/Tanjungpura Mayor Jenderal TNI Herman Asaribab, Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, Danlantamal XII/Pontianak Laksamana Pertama TNI Gregorius Agung W.D, Ketua Pemuda Pancasila Provinsi Kalbar Firman Muntaco, Ketua Damkar Kalbar Ateng Tanjaya, Ketua Satpol PP Kalbar, Danramil se – Pontianak, Kapolsek se – Pontianak, Jajaran BPBN, dan Jajaran BPBD juga hadir dalam event tahunan itu.

“Apel Bina Karuna Kapuas ini kita harus saling mencegah terjadi nya kebakaran hutan di Kalimantan Barat ini. Karena ini semua menjadi tanggung jawab kita sebagai warga Kalimantan Barat yang kita cintai ini. Oleh karena itu mari bapak – bapak dan ibu – ibu kita harus serius dalam menangani Karhutla ini, karena ini adalah ancaman buat kita semua,” kata Kepala Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Didi Haryono. 

Dengan adanya apel Bina Karuna Kapuas ini, dia mengajak,”Mari bapak dan ibu kita harus saling menjaga keamanan kebakaran hutan di Kalimantan Barat ini, karna ini akan mengakibatkan sangat fatal,”. 

Ada beberapa faktor akibat dari kebakaran hutan ini sebagai berikut: 

1. Mengakibatkan sakitnya asma

2. Mengganggu pernapasan bagi anak ank kecil 

3. Membatalkan penerbangan 

4. Mengganggu anak sekolah akibatnya sekolah diliburkan

5. Mengakibatkan para lansia harus banyak masuk rumah sakit

6. Masih banyak lagi kerugian yang lainnya

“Ada nya apel ini kita supaya bisa mencegah nya Karhutla, yaitu dengan cara selalu melihat hotspot, memberikan informasi kepada masyarakat bahayanya Karhutla, dan cara lain kerja sama dengan pabrik – pabrik yang ada di sekitar. Selalu mengadakan Patroli dengan rutin dengan aparat yang ada karena ini sangat baik untuk pencegahan dini, dan para anggota yang ada selalu siap untuk melakukan patroli dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab. Jalan terakhir yaitu dengan cara hukuman yang berlaku yang ada di Indonesia,” ujar Kepala Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Didi Haryono.

Kepada seluruh anggota operasi Bina Karuna ini harus penuh rasa tanggung jawab. “Karena kalianlah yang harus bekerja keras untuk menjaga di sekitar kita ini, karena kalau kita bisa menjaga alam ini. Alam ini pun bisa menjaga kita, semoga Alloh SWT selalu memberikan petunjuknya demi kita menjaga tugas, khususnya di Kalimantan Barat ini,” kata dia.

Catat Ini Bahaya Dampak Karhutla

hamparan.info – Guyuran hujan lebat tidak menyurutkan langkah sosok lelaki badan tegap itu berjalan ke sebuah halaman. Berbagai jenis kendaraan ada terparkir di halaman itu. Roda dua, tiga, empat, enam, yang sudah dimodifikasi. Satu persatu dicek.

Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Didi Haryono. Itulah nama lengkap dan jabatannya. Pada Senin, 22 Juli 2019, jenderal bintang dua itu mengecek lini persiapan pencegahan kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla. Ini dilakukan demi mencegah dini Karhutla di Bumi Khatulistiwa.

“Pengecekan peralatan, cek kesiapan alat dan uji coba alat pemadam,” kata Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Didi Haryono.

Didi Haryono menyebut, ada ratusan relawan yang hadir dalam kegiatan itu.  Di antaranya dari  PKJB Pemadam Kebakaran Jawi Bhakti, Pemadan Bhakti Sungai Beliung,  PPKS Suwignyo,  Pemadam Winodadi, Damkar Purnama. Selain itu ada juga dari relawan pemadam  Kumpai Besar Kubu Raya, Prmadam Mitra Bhakti, Rantis R4 dan R6 Pemadam Dit Sabhara Polda Kalbar, dan  puluhan pemadam  lainnya.

“Tolong diingat, dicatat, bahaya dampak Karhutla itu sangat besar. Mulai dari kesehatan, ekonomi, dan lain-lain. Ini jelas merugikan kita semua. Maka, marilah bersama-sama, cegah Karhutla,” ucap Didi Haryono.

Dia menjelaskan, pada Kamis, 18 Juli 2019, kebakaran lahan gambut 80 hektare lebih di Desa Rasau, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah. Api cepat menjelar karena susahnya akses ke lokasi dan minimnya sumber air.

Di Desa Mekar Baru, Kecamatan Monterado, Kabupaten Bengkayang, personel gabungan Polri-TNI dan Manggala Agni berjibaku madamkan api yang menghanguskan 62 hektare. Titik api ini pertama kali terdeteksi satelit Aqua pada koordinat 00.86855°-109.16884°.

Beruntung si jago merah ini tidak menjalar. Karena, berkat kesigapan para peronel bersinergisitas Polri-TNI dan Manggala Agni kobaran api tidak meluas.

Sementara itu di Kabupaten Kayong Utara, kesiapsiagaan antisipasi Karhutla juga akan digelar pada Kamis, 25 Juli 2019. Kegiatan itu  menyelenggarakan apel siaga berkoordinasi dengan Polri-TNI, dan organisasi perangkat daerah di sana. Tentu hal ini dilakukan demi mencegah Karhutla.

“Itulah bentuk kesolidan kami bersinergisitas,” ujarnya menjelaskan. Sedangkan di Kabupaten Landak,  berbagai peralatan pemadam api dan personel disiagan Polres Landak.  “Kesiapsiagaan ini demi mengantisipasi Karhutlah di wilayah hukum Polres Landak. Kapolres Landak AKBP Bowo Gede Imantio SIK MH mengambil langkah cepat dan tepat. Ini terlihat mereka mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, mulai dari mesin mini pemadam api dan personelnya. Ya tentu, kami tidak mau kecolongan. Karena pada  musim kemarau ini memungkin terjadinya Karhutla,” kata Didi Haryono.

Dia kembali menjelaskan, berdadasarkan laporan dari Kapolres Landak AKBP Bowo Gede Imantio SIK MH,” Wilayah Landak yang cukup luas dan medan yang cukup sulit menjadikan persiapan dilakukan sedini mungkin meski operasi Karhutla belum dimulai. Mengimbau kepada masyarakat atau pihak manapun yang akan membuka lahan untuk tidak melakukan dengan cara membakar,”

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, terus menerus melakukan monitoring serta melakukan persiapan-persiapan terhadap tanggap cepat bencana dan pemadaman terhadap Karhutla.  Bersinergi Polri-TNI dan organisasi perangkat daerah di sana mengimbau kepada semua pihak mencegah secara dini Karhutla. Tidak hanya itu, sosialisasi soal Karhutla dan mengaktifkan kembali kelompok-kelompok masyarakat siaga api, dan mengingatkan semua pihak agar menjaga lahan mereka tidak terjadi kebakaran. “Ini semua terntu harus didukung semua unsur. Maka, marilah bersama-sama jaga alam kita yang lestari,” kata  Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Didi Haryono.

Asah Skil Menerbangkan Wahana Tanpa Awak

Tim drone SIAR Nusantara saat latihan WTA di Jalan Sepakat 2 Pontianak

hamparan.info – Cuaca cerah berawan, Selasa 25 Juni 2019. Lepas asar sekira pukul 15:45 WIB. Staff lapangan beserta Tim Wahana Tanpa Awak/ drone SIAR Nusantara bergegas. Total mereka tujuh orang. Satu unit WTA berwarna hitam dibawa ke atas mobil beserta tool peralatan mekaniknya.

Sesuai jadwal internal, hari itu adalah jadwal latihan penerbangan WTA untuk peningkatan kapasitas Tim Drone SIAR. Meliputi persiapan sebelum terbang, mengecek WTA dan komponen mekanik, beserta teknik-teknik dasar yang mesti dikuasai.

Perjalanan dari kantor SIAR Nusantara menuju lahan lapang untuk tempat latihan memakan waktu relatif sebentar. Sekitar 10 menit. Tepatnya di Jalan Sepakat 2 Ujung Kelurahan Bansir Darat Pontianak Tenggara.

Mereka tiba di tempat latihan. Yakni lahan luas dengan dominasi tumbuhan rumput liar. Semak-semak   setinggi satu meter dari mata kaki orang dewasa. Puluhan meter di salah satu sisi lahan tersebut ada komplek perumahan yang masih baru. “Aman kita lakukan penerbangan di sini,” kata Yulius, Instruktur Pelatihan WTA SIAR Nusantara.

Infografis pelatihan WTA
Infografis pelatihan WTA

Sebelum terbang Tim mengoneksikan Ground Control System dari laptop ke telemetri WTA. Setelah terkoneksi, pengecekan kondisi komponen pun dilakukan. Mulai dari kinerja, aeleron, ruder, elevator, baterai, air speed dan komponen-komponen lainnya.

Setelah WTA dikonfirmasi siap terbang oleh Yulius, selaku instruktur, maka latihan terbang siap dimulai. Satu persatu rekan Tim bergiliran menjadi pilot WTA. Bergiliran pula yang memantau GCS dan melaporkan data penerbangan. Meliputi angka ketinggian pesawat, performa baterai, kecepatan hingga jarak WTA dengan titik take off atau home.

WTA terbang di udara, suara motor mendesing, baling-baling berputar kencang. WTA terbang sesuai kendali pilot. Sesekali menambah ketinggian, sesekali membelok ke kiri, lalu membalas ke kanan. WTA berputar-putar di atas ketinggian. Bergiliran Tim drone belajar menjadi pilot WTA mulai take off hingga landing. Beberapa landing mulus ke jaring yang dibentangkan, beberapa kali WTA melenceng dari jaring.

Deni Akbar, Tim drone yang mengikuti pelatihan WTA mengatakan dirinya sudah lama tidak menerbangkan drone. “Tangan udah mulai kaku ni, udah lama tidak megang transmiter,” tuturnya saat mendapat giliran menerbangkan WTA.

Sama halnya dengan Eriz Yunan, Tim drone itu mengatakan dirinya benar-benar sudah begitu lama tidak menerbangkan WTA. Ada rasa gerogi saat ia mulai memegang kendali transmiter untuk menerbangkan WTA. “Asli gerogi aku ni, tolong bimbing ye nanti pas terbang sampai landing ni,” ujarnya kepada Instruktur dan rekan rekan WTA lainnya.

Berbeda dengan Icmal Furqon, ia tampak antusias dan bersemangat mengikuti pelatihan hari itu. Ia salah satu rekan Tim drone yang beberapa bulan lalu dari memberi pelatihan WTA di Sorong Papua. Saat latihan penerbangan dia tampak tak begitu kesulitan.

Menurut Yulius dasar dalam menerbangkan drone adalah ketenangan. Latihan menguasai orientasi adalah poin yang ingin dicapai pada latihan hari ini. “Rata-rata rekan Tim sudah mampu menerbangkan drone,” tutur dia.

Yulius adalah instruktur yang sudah banyak pengalaman dalam menerbangkan WTA. Selain keahliannya menjadi pilot, ia juga pandai merakit WTA dan menguasai sistem mekanisme WTA. Ia juga sudah kerap kali mengikuti pelatihan berskala nasional dan melaksanakan projek pemetaan di Kalimantan Barat bahkan hingga luar Kalimantan.

Mengutip laman FWI.or.id , zaman teknologi yang sudah canggih, banyak orang-orang kreatif yang menciptakan alat – alat yang bermanfaat. Salah satunya wahana tanpa awak atau yang biasa kita kenal dengan nama Drone. Sekarang sudah banyak yang menggunakan WTA untuk memantau hutan, salah satunya adalah NGO atau LSM yang bekerja di bidang kehutanan. Alat tersebut kedepannya di gunakan untuk membantu kerja – kerja LSM dalam melakukan pemetaan, tata kelola kehutanan dan penegakan hukum di bidang kehutanan.

Petakan Sawit Mayarakat, Langkah Awal Dorong STDB

Hamparan.info  Kalimantan Timur – Pemetaan menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) di Kalimantan Timur tepatnya di desa Long Ikis, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Kali ini  yang dipetakan SIAR adalah kebun petani kelapa sawit mandiri yang ada di 5 desa.  Pemetaan ini terlaksana dikarenakan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) ingin mendata kebun petani mandiri yang ada di Kecamatan Long Ikis terutama di 5 desa, terkait produktivitas hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat.

Total luasan areal yang dipetakan dari 5 desa itu kurang lebih 4000 hektar. Selain untuk mendorong kebijakan supaya perusahaan mau bermitra dengan mansyarakat banyak hal lain yang dapat dilakukan apabila peta areal kebun masyarakat sudah ada.

Salah satu diantaranya kata Syaiful Anwar Selaku staff lapangan SPKS kita dapat mendorong Disbun untuk melakukan dan mengeluarkan Surat Tanda Daftar Budidaya (STD-B) kebun-kebun petani yang ada di Kecamatan Long Ikis.

“Hingga saat ini terkait peta sebaran kelapa sawit masyarakat belum ada. Maka dari itu data areal pekebun sawit mandiri sangat kita butuhkan. Sebab data dan peta areal kebun ini menjadi salah satu syarat apabila ingin bermitra dengan perusahan. Maka dari itu kita SPKS Paser sangat menbutuhkan data tersebut agar bisa mendorong perusahaan mau bermitra dengan petani. Selama ini petani menjual buah sawit mereka lewat tengkulak-tengkulak dengan harga dibawah standar yang ditetapkan Disbun,” kata Syaiful.

 

Begini Cara Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Barat

hamparan.info – Berbagai cara dilakukan guna mencegah kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat. Caranya adalah, jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Karena, jika lahan dibakar maka berbagai persoalan timbul. Di antaranya, kabut asap pekat dan penyakit inpeksi saluran pernapasan atau Ispa.

Untuk itulah, guna mencegah kebakaran hutan dan lahan gambut itu, maka Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi  Didi Haryono duduk dalam satu forum diskusi pencegahan Karhutla yang mengusung tema Cegah Karhutla Kalimantan Barat Bersiaga. Kegiatan itu pun digelar di hotel Mercure Pontianak, Selasa (21/5/2019).

Kajati Kalbar Baginda Polin Lumban Gaol , Kepala BPBD Provinsi Kalbar  TTA Nyarong, CEO Perkebunan Sinar Mas Agribusiness and Food wilayah Kalimantan Barat, Susanto, dan beberapa pimpinan perusahaan sawit anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalbar, masyarakat petani, serta media arus utama berdiskusi bersama memecahkan masalah itu.

Dalam diksusi bersama itu, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Didi Haryono menjabarkan ada tiga hal utama musti diperhatikan permasalah dampak Karhutla ini.

“Karhutla ada tiga aspek: kesehatan, lingkungan, ekonomi. Ini masalah semua. Jadi, semua sinergisitas,” kata Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Didi Haryono.

Dia menjelaskan, pola pencegahan sebelum terjadi penyebab Karhutla, dan faktor-faktor lainya.

“Ada juga patroli, sosialisasi kepada semua lapisan masyarakat. Ada juga edukasi. Itu juga sudah disampaikan,” ujarnya.

Dia menegaskan permasalah menyangkut Karhutla pihaknya tidak pandang bulu. Maka, dari itu Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Drs Didi Haryono SH MH kembali menegaskan ,”Jika ada yang melakukan di luar ketentuan, maka akan dilakukan penegakan hukum. Karena tahun 2019, kita semua berharap Kalbar zero Karhutla. Karena dampaknya itu berbahaya,”.

Dia mengajak siapapun boleh melakukan pengawasan soal Karhutla. “Maka mari mari awasi bersama. 182 desa di Kalbar ini sudah dipetakan terkait Karhutla ini. Karena lahan kita banyak gambut,” ucapnya.

Sementara itu, CEO Perkebunan Sinar Mas Agribusiness and Food wilayah Kalimantan Barat, Susanto menyebut sebagai bentuk respon dan antisipasi bersama Karhutla terjadi kembali di Kalimantan Barat, Sinar Mas Agribusiness and Food bersama para pemangku kepentingan lainnya seperti POLDA dan BPBD Kalimantan Barat menyelenggarakan kegiatan diskusi bersama dengan mengangkat topik “Cegah Karhutla, Kalimantan Barat Bersiaga”. Kegiatan diskusi tersebut menyoroti kejadian karhutla pada tahun sebelumnya dan menjadi pembelajaran sebagai upaya dalam mencegah karhutla terjadi kembali di Kalimantan Barat pada 2019.

Khusus di Kalimantan Barat saja, pada tahun 2016 Karhutla terjadi di beberapa titik dengan total luasan 43.800 hektar dan pada tahun 2017 dengan luasan yang lebih kecil yaitu 20.250 hektar. Karhutla 2018 juga setidaknya kembali menelan banyak kerugian mulai dari aspek lingkungan, ekonomi maupun kesehatan. Setidaknya tercatat 2.000 orang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.

“Perusahaan mempunyai komitmen untuk turut berkontribusi dalam mencegah karhutla di Kalimantan Barat dengan melaksanakan Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Program yang dilaksanakan sejak tahun 2016 merupakaan sebuah program pemberdayaan masyarakat secara partisipatif. Sehingga masyarakat memiliki kemampuan dalam mencegah dan mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Serta mencapai ketahanan pangan dengan cara yang lebih ramah lingkungan melalui Pertanian Ekologis Terpadu (PET) sehingga masyarakat tidak perlu membakar lahan dalam mengelola tanah,” kata CEO Perkebunan Sinar Mas Agribusiness and Food wilayah Kalimantan Barat, Susanto.

“Program DMPA kami rancang dengan memahami kebutuhan masyarakat dari desa binaan kami. Tahap pertama fokus pada pencegahan dan mengatasi kebakaran. Tahap kedua, kami mencoba memberikan solusi dari akar permasalahan agar masyarakat mau dan bisa meninggalkan pola bertani dengan membakar melalui PET. Saat ini, perusahaan telah melakukan pendampingan kepada 8 desa di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat untuk program DMPA,” ujar CEO Perkebunan Sinar Mas Agribusiness and Food wilayah Kalimantan Barat, Susanto.

Melalui PET, masyarakat akan tetap dapat bertani dan mendapatkan pangan yang dibutuhkan, bahkan mendapatkan produktifitas yang lebih baik dan pengeluaran yang lebih sedikit untuk mengelola pertanian. Bersama dengan Masyarakat Siaga Api (MSA) dan pemerintah setempat, masyarakat desa diajak untuk melakukan proses belajar dengan praktik di lapangan – atau disebut juga sekolah lapangan PET – dan kemudian mereplikasikan di kebun masing-masing.

“Setelah bergabung dengan kegiatan PET, kelompok yang telah mereplikasikan PET ke lahan masing- masing mampu memberi penghasilan tambahan sebesar 1-1.2 juta per bulan. Tentu hal ini sangat membantu kami dalam membantu keuangan keluarga. Selain itu, kami juga menjadi lebih paham cara bertani dengan teknik yang ramah lingkungan dan tidak membakar lagi,” kata Nimia, salah satu anggota kelompok PET.

Untuk menumbuhkan kesadaran sejak dini, program PET juga telah menjadi sebuah pelajaran muatan lokal di SMP Negeri 10 Satap. Ilmu dan pengetahuan yang didapatkan di lahan belajar, diperkenalkan dan diajarkan kepada anak-anak sekolah agar mereka dapat menjaga lingkungan melalui pola bertani tanpa membakar.

Program DMPA telah memberikan kontribusi positif dalam pencegahan karthutla di Kalimantan Barat. Pada tahun 2018, titik panas di Ketapang menurun sebesar 89,0% dibandingkan dengan tahun 2015, dimana terdapat 213 titik panas dan 130 titik api di desa binaan. Cuaca menjadi tantangan utama di tahun 2018, di mana curah hujan lebih sedikit dan musim kering lebih panjang dibandingkan tahun 2017.

“Program DPMA telah mengurangi kebakaran di hutan, perkebunan dan lahan di daerah sekitar operasional kami dari tahun ke tahun. Pencapaian ini tidak akan mungkin terjadi tanpa kerja sama Tim Tanggap Darurat, Pemadam Kebakaran, anggota masyarakat petani dan pemerintah daerah untuk mengatasi tantangan bersama – mencegah dan menekan api dengan cepat. Kami ingin mengulangi kesuksesan ini di tahun 2019 dan terus semua tetap waspada saat kita menuju bulan kering dan terus melindungi hutan dan masyarakat kita,” ujar CEO Perkebunan Sinar Mas Agribusiness and Food wilayah Kalimantan Barat, Susanto.

ASN Sintang Bantu Bangun Gereja Tj. Baung

Sekda Sintang (kiri) menyerahkan dana sumbangan ASN Katholik Kabupaten Sintang untuk proses pembangunan gere di Tanjung Baung, Kecamatan Ketungau Hilir.

Hamparan.info – Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Yosepha Hasnah, mengatakan Aparatur Sipil Negara (ASN) beragama Katholik di Sintang memiliki komitmen untuk membantu pembangunan gereja. Khususnya gereja yang berada di pedalaman yang mengalami kesulitan dana ketika membangun tempat ibadah.

Satu di antara yang mendapat bantuan yakni Gereja Stasi St. Mikael Tanjung Baung Kecamatan Ketungau Hilir. Gereja tersebut mendapat sumbangan dari ASN di Kabupaten Sintang yang diserahkan Sekda, Minggu (7/4).

“Kedepannya kegiatan ini akan Kami lanjutkan terus. Kami bertekad membantu pembangunan pembangunan gereja baik yang ada di stasi maupun Paroki. Kita menyadari kemampuan umat dalam membangun gereja terutama umat di pedalaman memang masih harus dibantu oleh kita semua,” ujarnya.

Untuk Gereja Stasi St. Mikael Tanjung Baung, uang yang terkumpul sejumlah 40 juta rupiah. Uang tersebut selanjutnya dibelanjakan keperluan bahan bangunan senilai 30 juta rupiah, sisanya diberikan dalam bentuk uang tunai.

“uang sebesar 10juta rupiah, kami serahkan kepada ketua panitia pembangunan gereja untuk menambah kas panitia. Sementara 30 juta rupiah kami belikan seng untuk keperluan pembangunan,” lanjutnya.

Pimpinan umat Katolik di Tanjung Baung, Pastor Leonardus Miau, mengakui kemampuan finansial masyarakat sekitar masih sangat minim. Sehingga bantuan tersebut sangat bermakna.

“Kami senang sekali, karna seng itu cukup untuk seluruh bangunan gereja baru kami. Kami juga sangat senang atas kunjungan perwakilan ASN,” ujarnya.

 

Video: Tengkawang Bukan Sekadar Program

hamparan.info – Tengkawang. Terngiang-ngiang di masa lalu hingga sekarang. Namun, apa nasibnya kini? Seberapa cocok dan tidak cocokkah Engkabang [sebutan Tengkawang di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat] untuk kehidupan berkelanjutan?

Tentu bukan soal cocok atau tidak perlu. Semua perlu. Tergantung ngemasnya jadi menarik daya tarik.

Gunung Palung dan Berbagai Manfaat bagi Masyarakat

hamparan.info   Taman Nasional Gunung Palung adalah salah satu Taman Nasional yang berada di Kalimantan Barat. Taman Nasional ini terletak di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Keanekaragaman hayati menjadi daya tarik bagi peneliti baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Apalagi di taman nasional ini salah satu hewan endemik pulau bernoe yaitu orang hutan sangat madah ditemui.

Salah satu peneliti Orangutan dari Yayasan Palung Elizabeth sudah membuat jalur transek Orang utan di Taman Nasional Gunung Palung. “ Setidaknya sudah ada 10 jalur transek Orang utan yang sudah kami survey dan itu memang jalur mereka untuk mencari makan.” Kata Elizabeth.

Selain Orang utan, hewan-hewan lainnya juga banyak. Diantaranya Macan, Kijang serta Babi. Untuk Macan jarang sekali ditemui. Dan hanya terlihat dari camera traps.

Darmadi salah satu petugas Taman Nasional Gunung Palung mengatakan, camera traps yang kami pasang dalam 1 atau 2 minggu  sekali dicek hasilnya.

“ Dan hewan yang sering terekam dalam camera babi hutan, kijang dan sesekali macan juga terekam dalam camera traps yang kami pasang,” kata Darmandi.

Selain banyaknya hewan-hewan yang ada di Gunung Palung, tentu manfaat Gunung Palung bagi masyarakat sekitar juga berdampak. Salah satunya adalah kesedian air bersih yang dirasakan oleh masyarakat.

Herman salah satu masyarakat yang berasal dari desa Sedahan mengatakan, dengan ditetapkanya Gunung Palung ini menjadi kawasan konservasi menjadi keuntungan bagi desa-desa disekitarnya secara umum bagi masyarakat Kayong Utara.

“ Sebab apabila tidak dijadikan Taman Nasional tidak menutup kemungkinan kawasan Gunung Palung ini menjadi incaran oleh korporasi yang bergerak di bidang perkebunan dan sebaginya,” kata Herman.

Seperti yang terjadi di hulu Ketapang kata Herman, sebagian masyarakat untuk air minum saja harus mengeluarkan uang sementara kami disini tinggal minum saja tidak perlu keluar uang.

Untuk sampai ke basecamp Taman Nasional Gunung Palung ini ada dau jalur menjadi alternative. Diantaranya jalur darat dan jalur sungai. Kebanyakan peneliti yang datang ke kawasan Gunung Palung ini menggunakan jalur darat. Sebab jalur sungai digunakan untuk mengangkut logistik saja.  Jarak tempuh yang untuk jalur darat memakan waktu kurang lebih 3 jam, sedangkan jalur sungai memakan waktu selama 5 jam.

 

Sumatera Kirim Kartu Pos Tantangan Energi Bersih untuk Jokowi dan Prabowo

hamparan.info – Jejaring Sumatera Terang untuk Energi Bersih yang merupakan bagian dari gerakan #BersihkanIndonesia, secara simbolik mengirimkan kartu pos tantangan mengembangkan energi bersih berkelanjutan kepada pasangan capres Joko Widodo-Ma’aruf Amin dan capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Kartu pos yang dikirim dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jambi dan Lampung tersebut berisi tantangan bagi kedua kandidat segera berkomitmen beralih dari energi kotor batu bara ke energi bersih terbarukan, dan untuk berani menghentikan proyek energi kotor batu bara yang menyengsarakan rakyat. Total kartu pos yang akan dikirimkan sebanyak 50 ribu kartu di mana sisa kartu pos akan dikirim menjelang pelantikan presiden terpilih.

Melalui aksi simbolik yang dilakukan oleh 20 aktivis lingkungan dari masing-masing wilayah sebanyak 20 kartu pos dikirimkan masing-masing 10 kartu pos ke markas TKN Capres Jokowi-Amin dan 10 kartu pos ke markas BPN Capres Prabowo-Sandi di Jakarta. Kartu pos tersebut dikiriman melalui kantor pos di masing-masing wilayah dengan menggunakan layanan lacak status kiriman untuk memastikan bahwa kartu pos tersebut sampai ke tangan Capres Jokowi dan Capres Prabowo.

Inisiator Jejaring Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB), Ali Akbar menyatakan bahwa Sumatera saat ini berada diambang kehancuran ekologis sebagai muara dari rakusnya penggunaan energi kotor batu bara. Menurtnya, menyandarkan sumber energi dari batubara adalah peta jalan salah dan dipastikan akan memberikan dampak buruk bagi keselamatan lingkungan dan mahluk hidup di dalamnya.

“Tanpa desakan dan tantangan dari gerakan masyarakat sipil, kedua kandidat tidak dapat diharapkan untuk beralih dari energi kotor ke energi terbarukan. Dimasa depan, kandidat terpilih sejatinya harus mampu menentukan energi terbaik dari sumber daya terbaik yang ada di Indonesia sebagai sumber pemenuhan kebutuhan energi,” ucap Ketua Kanopi Bengkulu ini.

Di Bengkulu, pembangunan PLTU batu bara Teluk Sepang saat ini sudah memberikan dampak terhadap petani penggarap lahan. Tanam tumbuh petani digusur terlebih dahulu baru diganti rugi dengan nilai yang tidak adil bagi petani. Ditambah lagi ancaman lain apabila PLTU sudah beroperasi. Sebanyak 2.732,4 ton/hari batu bara akan dibakar yang akan menghasilkan 35 persen abu terbang dan abu bawah.

“Melalui kartu pos ini kami minta pemerintah segera hentikan PLTU batu bara Teluk Sepang dan beralih ke energi terbarukan,” kata Tamara Natasya, salah seorang pemuda Teluk Sepang yang mengirimkan kartu pos.

Kartu-kartu pos tersebut juga menyuarakan keprihatinan dari setiap wilayah. Khususnya dari kalangan anak muda Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan yang tempat tinggalnya rusak dan tercemar oleh proyek energi kotor batu bara. Salah satunya dari Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat yang terdampak pencemaran tambang batu bara dan operasional PLTU batu bara Keban Agung.

“Tiap hari debu dan abu batu bara dari PLTU dan pengerukan batu bara terhirup oleh warga desa kami,” ujar Rusdi, aktivis lingkungan dari Desa Muara Maung yang terlibat dalam aksi pengiriman kartu pos tersebut.

Di Aceh, aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMuR), Maskur menyebutkan tambang batu bara dan PLTU Nagan Raya menjadi sumber konflik lingkungan bagi masyarakat Desa Suak Puntong Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya dan Desa Peunaga Cut Ujong Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat.

Dampak debu yang dihasilkan dari stockpile tambang PT Mifa Bersaudara dan PLTU Nagan Raya telah berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat sekitar. Sejauh ini pemerintah setempat khusus Nagan Raya tak memiliki niat menyelesaikan konflik lingkungan dari debu batubara

Sementara Direktur LBH Pekanbaru, Aditia Bagus Santoso meminta siapapun pasangan presiden dan capres terpilih harus peka terhadap energi bersih sebagai pilihan utama kebijakan atas sumber kelistrikan di Indonesia. Aditia bilang “Golput adalah alternatif pilihan bagi presiden yang tidak pro terhadap energi bersih,”.

Direktur Yayasan Srikandi Lestari dari Sumatera Utara, Mimi Surbakti mengatakan telah menyaksikan operasional PLTU Pangkalan Susu di pesisir Langkat yang menganggu kelestarian laut sehingga secara langsung mengganggu mata pencaharian nelayan. Menurutnya, bila proyer PLTU terus dilanjutkan Indonesia akan sulit memberantas kemiskinan sehingga pemerintah harus mencabut izin PLTU Pangkalan Susu bila ingin menciptakan Indonesia yang berkeadilan.

Ditambahkan Direktur LBH Padang, Wendra Rona Putra bahwa masa depan Indonesia ada pada energi bersih. “Jangan lagi mengorbankan kesehatan masyarakat dengan penggunaan energi fosil, pemimpin Indonesia kedepan harus punya visi untuk memastikan generasi Indonesia hidup dan tumbuh dalam lingkungan yang bersih dan sehat,” ucapnya dikutip dalam keterangan resminya.

Sayangnya kata Wendra, pemerintah masih sibuk akan membangun PLTU batu bara baru di Pulau Sumatera dengan total daya mencapai 7000 MW, padahal saat ini Sumatera sudah kelebihan daya listrik mencapai 2.000 MW.