Sisik Trenggiling Kembali Disita Polisi Kalbar

hamparan.info – Perburuan dan penjualan satwa yang dilindungi Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem masih saja terjadi di Kalimantan Barat. Di jalur perbatasan RI-Malaysia, tepatnya di Jalan Subah, Dusun Ledo, Desa Lesa Bela, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang, Unit 1 Subdit 4 Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Barat yang dipimpin oleh IPTU Marhiba, telah mengamankan 1 orang laki-laki berinisial RN alias BM berikut barang bukti berupa 3 kantong plastik berisi sisik trenggiling sebanyak 3 kilogram di sebuah warung kopi.

“Barang buktinya di simpan di rumahnya di Jala Subah, Dusun Ledo, Desa Lesa Bela, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang. Dasar penangkapan LP/303/VIII/2019/Kalbar/SPKT Polda kalbar tanggal 29 Agustus 2019,” kata Direktur Reskrimsus Polda Kalbar Komisaris Besar Polisi Mahyudi Nazriansyah.

Lelaki yang memiliki tiga bunga melati di pundaknya itu menjelaskan, Pasal persangakaan untuk pelaku ini, yakni Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf d UU No 5 tahunn 1950 Tentang KSDAE. Direktur Reskrimsus Polda Kalbar Komisaris Besar Polisi Mahyudi Nazriansyah SIK membeberkan, kronologi kejadian itu. Pada Rabu 28 Agustus 2019 Tim Ditkrimsus Polda Kalimantan Barat mendapat informasi dari masyarakat bahwa di sebuah warung Kopi di Jalan Subah, Desa Lesa Bela, Kecamatan Ledo,Kabupaten Bengkayang ada warga menjual sisik Trenggiling.

“Maka, selanjutnya Tim bergerak melakukan penyelidikan dan mencari informasi terkait sisik trenggiling itu,” katanya.

Dia menjelaskan kronologi penyitaan sisik trenggiling itu. Pada Kamis, 29 Agustus 2019 pukul 13.00 WIB Tim berhasil mengamankan pelaku menyampaikan bahwa harga trenggiling tersebut akan dijual dengan harga Rp. 2.700.000,- perkilogram. Sedangkan berdasarkan pengakuan pelaku, ia membeli dari pemburu sebanyak 4 kilogram dengan harga Rp. 3.650.000,-.

“Pada saat pelaku menunjukan 1 bungkus plastik warna hitam berisi sisik trenggiling selanjutnya langsung diamankan kemudian perugas menemukan 1 buah kotak kardus bertuliskan Fullo. Dan setelah dibuka ternyata isinya sisik trenggiling yang masing masing dibungkus dengan kantong plastik warna hitam dan warna merah dengan total jumlah 4 kilogram. Terhadap pelaku berikut barang buktinya diamankan guna proses penyidikan,” ujar Direktur Reskrimsus Polda Kalbar Komisaris Besar Polisi Mahyudi Nazriansyah.

Dia kembali menjelaskan, barang bukti yang disitia adalah 1 buat kardus bertuliskan Fullo yang di dalamnya berisi 1 kantong plastik warna hitam berisi sisik trenggiling dan 1 kantong plastik warna merah berisi sisik trenggiling, 1 kantong plasrik berisi sisik trenggiling.  “Total barang bukti setelah di timbang kurang lebih 3,5 kilogram,” ucapnya.

 

 

 

Video : Mengenal Pers Mahasiswa

hamparan.info – Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) WARTA IAIN Pontianak, Indah Chandika Anisyavira, menuturkan LPM WARTA adalah wadah untuk mencari ilmu dan pengalaman lapangan yang benar-benar nyata dalam hal ilmu jurnalistik pers kampus.

“Semenjak masuk ke LPM WARTA saya dituntut untuk lebih peka terhadap lingkungan. Ini membuat saya sadar bahwa perduli itu perlu,” tutur Indah Chandika Anisyavira.

Bagi dia, di LPM WARTA itulah membentuk karakter kepribadian seseorang. Itu sebabnya, dia mengajak kepada seluruh mahasiswa IAIN Pontianak, Kalimantan Barat, untuk ikut belajar bersama di LPM WARTA.

“Banyak mendapatkan informasi di dalam maupun di luar kampus yang belum tentu diketahui orang lain. Bertemu dengan orang-orang yang paham di bidang penulisan, memiliki pemikiran yang luas dengan pengalaman-pengalaman yang luar biasa,” ujar Indah Chandika Anisyavira.

Indah Chandika Anisyavira berujar,” Belum tentu semua orang bisa mendapatkan pengalaman seperti ini dan saya merasa sangat beruntung bisa bergabung dan berproses belajar bersama kawan-kawan di LPM WARTA,”.

 

 

 

Seperti Apa Era Kendaraan Listrik?

hamparan.info – Peraturan Presiden (Perpres) no. 5 tahun 2019 tentang kendaraan listrik sudah diketok. Menyambut hal tersebut, Kementerian Perhubungan menyelenggarakan Parade dan Pameran Kendaraan Listrik dengan Tema Menuju Indonesia Bersih Udara dan Hemat Energi dengan Kendaraan Listrik, pada Sabtu, 31 Agustus 2019 di lapangan Monumen Nasional Jakarta Pusat.

Plt Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani, menyampaikan bahwa PLN siap mendukungan era kendaraan listrik. Dukungan tersebut diwujudkan dalam menyiapkan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Terdapat dua skema bisnis SPKLU yang digagas PLN, yaitu Company Owned Company Operated (COCO) dan Partner Owned Partner Operated (POPO). Selain itu, dukungan lain dari PLN yaitu dengan memberikan diskon tambah daya listrik sebesar 75 persen bagi pemilik motor listrik dan diskon 100 persen atau gratis bagi pemilik mobil listrik, agar pemilik kendaraan listrik bisa menggunakan station charging di masing-masing rumahnya tanpa kendala daya listrik.

Selain diskon tambah daya tersebut PLN juga memberikan diskon tarif listrik sebesar 30 persen bagi pemilik kendaraan listrik di malam hari mulai pukul 22.00 Wib sampai 04.00 Wib, berlaku sejak 1 September 2019.

“Kami memberikan kemudahan bagi semua pihak yang ingin bersama-sama mengembangkan kendaraan listrik. Mulai dari pelanggan sampai partner yang ingin bekerjasama,” kata Sripeni Inten Cahyani, dikutip dalam keterangan resminya.

Dalam pameran dan parade kendaraan listrik kali ini PLN juga berpartisipasi menjadi pendukung acara dengan Powered by PLN karena selama pameran berlangsung pasokan listrik menggunakan sumber PLN yang pastinya bebas polusi karena tidak menimbulkan asap.

“Kami mendukung program pemerintah menuju Indonesia Bersih dengan mendorong pengembangan kendaraan listrik dan penggunaan energi ramah lingkungan untuk event dengan memakai Power Bank dan UPS PLN ,” kata Sripeni Inten Cahyani.

 

 

 

Rangkaian Festival Paret Nanas Berakhir, Apa Mimpi Besarnya?

hamparan.info – Festival Parit Nanas sejak 17 hingga 24 Agustus 2019 berakhir sudah hari ini. Berbagai  kegiatan pun digelar. Di antaranya  adalah lomba mural, lomba foto, dan lomba Vlog. Gawe festival rakyat itu digelar demi menyadarkan atau mengkampanyekan sadar akan keberadaan paret di Paret Nanas, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Ketua Kreasi Sungai Putat (KSP), Syamhudi,  menilai Festival Paret bagian dari cara kampanye soal paret kota untuk mendorong dua sisi. Sisi pemerintah mendorong Pemerintah Kota Pontianak untuk memprioritaskan juga perhatian ke pada paret baik dari kebijakannya maupun teknis.

“Hal ini dikarenakan paret tidak sekadar wadah aliran air melainkan masa depan keberadaan kota ini akan terhubung erat dengan keberadaan paret-paret kota,” kata Ketua  Kreasi Sungai Putat , Syamhudi.

Dia menjelaskan,  siklus paret kota (hutan gambut, pemukiman dan sungai kapuas) dan sisi lainnya mengajak masyarakat meningkatkan kepeduliannya terhadap paret dari rasa memiliki menjadi menjaganya. “Karena Paret ilang peradaban ilang. Gambut ilang kote tenggelam,” kata Ketua  Kreasi Sungai Putat , Syamhudi.

 

 

Camat Pontianak Utara, Aulia Candra, menyebut orang zaman dulu bangun rumah rumahnya rumah betang, ada jarak antara tanah dan lantai. Zaman sekarang orang bangun rumah, lantai tidak ketemu tanah itu dianggap bukan rumah.

“Harapan saya kita kembali bisa menjaga paret kite, di Pontianak Utara ini yang Insya Alloh masih bisa dipergunakan sebagai saluran air. Jangan pula paret dijadikan tempat berdagang, karena orang mau lewat susah, tolong kita jaga sama-sama menjaga.  Mari menjadikan Paret Nanas ini salah satu destinasi wisata. Mau bersampan kano bisa di Bentasan sana, sudah ade lifejacket, pelampungnya, bagi yang mau berenang silakan,” kata Camat Pontianak Utara, Aulia Candra.

Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin, mengaku bersyukur kegiatan itu berjalan lancar. “Alhamdulillah selama palaksanaan Festival Parit Nanas mulai tanggal 17 Agustus sampai dengan 24 Agustus dapat berjalan dengan lancar,” kata Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin.

Kegiatan ini terselenggara  atas bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.  “Teman – teman panitia Gerakan Senyum Kapuas, Kreasi Sungai Putat dan Kelompok Pemuda Paret Nanas,” ucap Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin.

“Selamat kami ucapkan kepada para pemenang Lomba dalam rangka Festival Parit Nanas semoga bisa terus mengembangkan diri dan terus ikut mempromosikan potensi daerahnya sendiri yaitu Parit Nanas. Kedepan rencananya akan ada pendampingan khusus dari Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kota Pontianak terkait pengelolaan Parit Nanas, semoga bisa merubah stigma negatif Parit Nanas menjadi lebih baik,” ujar Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin.

Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin berujar,” Terima kasih juga diucapkan kepada semua pihak yg sudah membantu dan mendukung kegiatan yang memasuki tahun ketiga ini, semoga masyarakat semakin cinta dengan parit, semakin dekat dengan parit dan semakin sayang dengan parit. Merdeka Negeriku, merdeka Paritku, Paritku Sahabatku, Merdeka!!,”.

Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin, merinci kegiatan:

  1. Upacara Pengibaran Bendera di Atas Parit Nanas (17 Agustus)
  2. Lomba fotografi tema Kearifan Lokal Parit Nanas (17 – 18 Agustus)
  3. Lomba V Log tema Kearifan Lokal Parit Nanas (17 – 18 Agustus)
  4. Lomba Mural tema Keluarga Berencana (17 – 18 Agustus)
  5. Acara Puncak berupa pentas Seni, Jalan, Sehat, Kampanye Perlindungan Anak, Donor Darah (24 Agustus ).

 

 

Ketua Gerakan Senyum Kapuas, Abdurrachman Randy , yang juga selaku panitia penyelenggara kegiatan itu menyebut berbagai kegiatan digelar. Di antaranya  lomba mural, lomba foto, lomba Vlog. “ Terus tadi ada gerak jalan sehat, serta kegiatan donor darah dan kampanye perlindungan anak,” kata Ketua Gerakan Senyum Kapuas, Abdurrachman Randy.

Dia bilang, untuk Festival Paret Nanas #3 ini tentu harapannya dapat mengingatkan lagi kepada masyarakat luas untuk dapat menjaga paret. Khususnya lagi masyarakat Siantan Hulu yang bersentuhan langsung dengan Paret Nanas. “Selain untuk kebutuhan sehari-hari, Paret Nanas bisa dimanfaatkan sebagai kawasan wisata yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar,” ujar Ketua Gerakan Senyum Kapuas, Abdurrachman Randy.

 

 

 

Peringati HUT Kemerdekaan, Organisasi Kepemudaan Adakan Bhakti Sosial di Perbatasan Aruk

hamparan.info – Purwato, Kepala Pos Lintas Batas Negara (PLBN)  sangat mengapresiasi agenda teman-teman organisasi kepemudaan. Selain melihat langsung wajah perbatasan Aruk Kalbar-Malaysia, juga mengajak bersama-sama menjaga perbatasan dan bersinergi kolaborasi bersama dalam agenda-agenda perbatasan. Dengan demikian belakangan ini berada terdepan Indonesia ini yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat yaitu di Aruk, Kabupaten Sambas perkembangan sangat signifikan baik dari wisatawan, & ekonomi kerakyatan.

Rival Aqma Rianda, Ketua GMNI Pontianak mengatakan  dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia Ke – 74 tahun di Aruk, di perbatasan Malaysia-Kabupaten Sambas ini untuk membuka kembali sebuah memori koletif perjalanan dinamika kebangsaan.  “Hari ini kita rayakan di perbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia sebagai beranda ruang tamu Republik Indonesia,” ujar Rival Aqma Rianda dalam keterangan resminya.

Peringati HUT kemerdekaan RI ke-74 OKP adakan Bakti Sosial di Aruk, kabupaten Sambas

Menurut dia,  jati dirinya Bangsa Indonesia terhadap negara-negara yang diperbatasan dengan negara tetangga harus  dimaknai sebagai upaya refleksi historis dan meneguhkan kembali semangat nasionalisme, spirit kebangsaan, dan jiwa patriotisme. “Agar lebih cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya Kalimantan Barat sebagai barometer keberagaman etnis, suku & agama,” kata dia.

Suharman Ketua DPD IMM KALBAR menuturkan respon pemerintah serta masyarakat Desa Aruk , Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas  sangat mengapresiasi Kegiatan Bhakti sosial perbatasan yang baru pertama kali dilaksanakan oleh organisasi kepemudaan. “Harapan dari hasil kegiatan ini bisa memberikan kontribusi dan rekomendasi untuk kemajuan di daerah perbatasan,” tutur Suharman.

Sementara menurut Kaleb elevensi, korwil XIV PP GMKI mengatakan perbatasan yang merupakan beranda dan halaman terdepan, wajah Indonesia di mata negara tetangga, sudah selayaknya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. begitupun dengan  masyarakat di perbatasan tidak perlu minder lagi dengan status kawasan perbatasan, tetapi harusnya bangga.

Imran Ramadhan ketua PW KAMMI Kalbar menambahkan, perlunya Aruk dijadikan pusat ekspor impor untuk kesejahteraan masyarakat. “Hari ini kita perlu mengapresiasi kerja pemerintah dalam membangun infrastruktur di perbatasan ini, kedepan kita berharap perbatasan Aruk ini bisa menjadi pusat ekspor hasil bumi, laut maupun kerajinan masyarakat Sambas khususnya dan Kalbar pada umumnya untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat,” kata Imran Ramadhan.

Jhon Miranda, Ketua HIKMAHBUDHI Pontianak mengatakan, untuk dapat menghadirkan kebijakan dan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perbatasan, Pemerintah melalui BNPP seharusnya melibatkan masyarakat secara aktif dalam perumusan dan pengambilan keputusan. Sehingga, kata dia, kebijakan tidak terjebak pada keinginan pemerintah saja tetapi juga mengakomodir keinginan masyarakat.

Selain itu, perlu dijajaki pula potensi pengembangan kerjasama pengelolaan perbatasan dengan negara tetangga yang selama ini masih berfokus pada aspek keamanan, dilebarkan ke aspek kesejahteraan dan sosial-budaya. “Dengan demikian, kepentingan keamanan, kesejahteraan, dan sosial-budaya wilayah perbatasan akan dapat dipenuhi secara bersama,” ujarnya.

Sumber : Rival Aqma Riyanda

 

Hikmat, Pengibaran Bendera Merah Putih di Paret Nanas

hamparan.info – Sejak pukul 06.00 waktu setempat satu persatu warga berdatangan ke bantaran sungai Paret Nenas. Lokasinya berada di Gang Bentasan 1, Jalan Kebangkitan Nasional, Kelurahan Siantan Hulu Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Pengibaran bendera di atas Paret Nanas.

Upacara 17 Agustus 2019 ini diikuti murid SD, SMP, SMK, warga setempat, Kelurahan Siantan Hulu, dan Kecamatan Pontianak Utara. Semarak Kemerdekaan 74 tahun Republik Indonesia ini menusung tema Merdeka Negeriku, Merdeka Paretku ini dalam rangka memperingati HUT RI ke-74, Pemerintah Kecamatan Pontianak Utara bersama berbagai komunitas lingkungan hidup menggelar upacara pengibaran bendera merah putih di atas Paret Nanas.

Ketua Kreasi Sungai Putat, Syamhudi, mengatakan upacara ini merupakan bagian dari rangkaian #FestivalParetNanas yang kali ini menginjak tahun ketiganya. Upacara ini selain bertujuan demi meningkatkan semangat nasionalisme di tengah masyarakat, juga bermaksud mengingatkan betapa pentingnya paret, bukan hanya sekadar sebagai tempat aliran air, tetapi juga memiliki nilai-nilai lebih lainnya.

“Pengibaran bedera merah putih di atas Paret Nanas menjadi bagian terpenting untuk mengajak segenap masyarakat untuk perduli terhadap paret dan habitatnya,” kata Ketua Kreasi Sungai Putat, Syamhudi.

Ia mengaku ikut dalam upacara itu berujar,” Kita juga mendorong Pemerintah Kota Pontianak untuk segera mengambil lagkah kongkrit alias nyata dalam menyikapi lahan gambut dan paret tersisa dua komunitas biosphere ini sangat urgent untuk keberadaan air dengan kuatitas dan kwalitas yang baik untuk memenuhi hajat masyrakat kota dan mempertahankan fungsi gambut sebagai bank air terbaik,”.

Dia berkata,” Kita selalau berupaya fokus dalam megawal #masihsoalparet ini sederhana alasannya yang paling mungkin dipulihkan oleh Pemerintah Kota Pontianak hanya paret dan gambut (ekologi) bukan Sungai Kapuas,”.

“Upacara di Paret Nanas ini agak sedikit bermasalah karena kemarin terbentur musim kemarau. Sehingga ketersediaan air kurang . Ini bukan salah siapa siapa karena musim kemarau yang cukup panjang di hulu juga tidak ada hujan sehingga air di Paret Nanas ini juga berkurang,” kata Camat Pontianak Utara, Aulia Candra, sesuai upacara pengibaran bendera di atas Paret Nanas, Sabtu, 17 Agustus 2019.

Ia menjelaskan, jauh –jauh hari ia sudah mengantisipasi dengan melakukan penyemprotan lumpur. Tujuannya agar memperdalam aliran sungai di muara itu sehingga bisa dilaksanakan dengan baik.

“Kemudian untuk Festival Paret Nanas tahun 2019 ini dan kita memang ada beberapa kegitan lainnya yang mana didukung besar oleh masyarakat. Untuk pelaksanaan ini pembersihan penyemprotan lokasi . Kemudian kegiatan ini sangat besar didukung oleh masyarakat , dan tanpa dukungan masyarakat tidak dapat berjalan dengan baik,” kata Camat Pontianak Utara, Aulia Candra yang juga sekaligus inspektur upacara pengibaran bendera merah putih di atas Paret Nanas.

Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin, melihat antusias masyarakat pada kegiatan itu ramai yang hadir lebih ramai dari tahun tahun sebelumnya. “Dan juga tahun ini teman-teman dari Kepolisian ada ikut hadir dalam upacara. Kapolsek Pontianak Utara menurunkan satu kompi. Kita juga mengundang tokoh masyarakat dari RT, RW, Posyandu, PKK juga ikut hadir,” kata Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin.

Ia menjelaskan, antusias masyarakat selain yang tinggal di Bentasan Paret Nanas, masyarakat luar juga cukup antusias. “Terima kasih kami ucapkan kepada masyarakat,” kata Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin.

Untuk moment tahun ini Festival Paret Nanas ketiga ini yang spesial menurutnya adalah rangkaian dengan kegiatan festival tahun ini ada lomba , lomba fotografi, lomba Vlog, lomba mural, mudah mudahan dengan adanya lomba-lomba ini.

“Teman – teman yang mungkin yang dari luar Pontianak Utara atau Siantan Hulu, bisa tahu oh ternyata ada potensi wisata ini nanti juga dapat kita ajak mempromosikan potensi yang ada di Paret Nanas, Siantan Hulu,” ujar Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin.

Ia bilang, menyoal kondisi alam, walaupun sedang berkabut asap masyarakat dan anak anak sekolah masih antusias. “Untuk kabut asap dan kebakaran lahan di Siantan Hulu memang relatif kurang, bau asap tidak terlalu tercium karena di sekitar masih banyak tanaman – tanaman hijau banyak pohon udaranya segar dan untuk paretnya ini sedangn memasuki musim kemarau untuk debit airnya di Paret Nenas memang cukup kecil . Itupun itu sudah coba kita siasati kesekitar lokasi upacara, kita coba gali lumpur lumpurnya, supaya endapan lumpur bisa ketepi dan untuk upacara masih bisa memungkinkan genangan airnya,” ujar Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin.

Ketua Gerakan Senyum Kapuas, Abdurrahman Randy, yang juga selaku panitia penyelenggara kegiatan itu menyebut, membuat kesadaran dari masyarakat bahwa pentingnya paret karena masyarakat Kota Pontianak itu berawal dari tepian sungai.

“Juga mengembalikkan kebiasan masyarakat Kota Pontianak ini sebagai warga tepian sungai. Dulu kita di tepi sungai sekarang mulai tergerus untuk lebih banyak ke daratan. Paret itu adalah sumber kehidupan, manusia,”.

 

 

Video: Asa Kehidupan Rumah Pelangi di Ambawang Kubu Raya

hamparan.info – Rumah Pelangi, begitulah sebutan sebuah wilayah konservasi yang didirakan oleh Pastor Samuel Oton Sidin, OFM Cap. Pria sederhana kelahiran 12 Desember 1954 asal kampung Peranuk di Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Rumah Pelangi ini lokasinya berada di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Dan Asa Kehidupan di Rumah Pelangi adalah sebuah film semi dokumenter bercerita tentang perjalanan saya ketika berkunjung pertama kali ke sana. Sebelum sampai ke Rumah Pelangi belum banyak pengetahuan tentang kawasan ini.

Namun setelah sampai dan berkeliling di kawan tersebut, kami merasakannya, ya merasakan aroma kehidupan yang berbeda dari kehidupan kota.

Mahasiswa Bersihkan Parit yang Tersumbat di Dusun Palangkeran

Mahasiswa KKL IAIN Pontianak membersihkan parit anak sungai yang tersumbat. (Foto: Wahyu Kusuma Dewi / hamparan.info)

hamparan.info – Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) IAIN Pontianak gelar kerja bakti membersihkan parit yang tersumbat akibat sampah yang menumpuk di Dusun Palangkeran pada Jumat 2 Agustus 2019.

Kegiatan kerja bakti dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB hingga pukul 09.30 WIB. Sekitar 12 orang yang terdiri dari 7 laki-laki dan 5 orang perempuan bersama-sama membersihkan parit yang tersumbat sampah. Mereka adalah mahasiswa KKL IAIN Pontianak yang ditugaskan di desa Semparong Parit Raden tepatnya Dusun Palangkeran.

Kegiatan berlangsung lancar meski dengan alat seadanya hasil pinjaman dari warga setempat. Warga pun antusias terhadap kegiatan mahasiswa KKL yang berinisiatif membersihkan parit yang tersumbat sampah sehingga menjadikan aliran parit lancar dan tidak bau lagi.

Menurut Arianton, Katua Kelompok 7 KKL IAIN POntianak, kegiatan tersebut diharapkan dapat membawa mahasiswa IAIN dalam berbakti terhadap masyarakat. Selain itu, dengan kegiatan gotong royong menjadikan pelajaran bagi mahasiswa sehingga nantinya mampu membawa mahasiswa mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi.

Selain itu, kerja bakti ini juga merupakan salah satu bentuk revolusi mental dan mendukung gerakan Indonesia bersih. Dengan adanya kerja bakti tersebut dapat menyadarkan masyarakat untuk lebih menjaga lingkungan dan tidak sembarangan membuang sampah terutama disungai.

Karena itu dapat berdampak pada aliran sungai dan membuat sungai jadi tercemar. kegiatan ini merupakan salah satu program kerja yang dilaksanakan setiap hari jum’at oleh Mahasiswa KKL IAIN Pontianak kelompok 7. (Reporter : Wahyu Kusuma Dewi).

Mereka yang Nangis, Senang dan Berang di balik Aksi Simpatik Tingginya UKT

Aksi Simpatik yang dilakukan sejumlah mahasiswa IAIN Pontianak atas kenaikan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) mencuri perhatian civitas akademika IAIN Pontianak, Senin 15 Juli 2019. Aksi tersebut pun ditanggapi beragam, mulai membuat berang pejabat kampus hingga menghibur petani yang kebetulan mengurus pendaftaran anaknya. Terlepas dari hal tersebut, aksi yang dibalut dengan parade puisi dan teatrikal itu berjalan aman tanpa tindakan anarkisme berlebihan.

hamparan.info – IMAM MAKSUM –

Hilir mudik mahasiswa mengawali Senin pagi itu (15/7). Seperti hari-hari biasa, Gazebo IAIN Pontianak mulai dipenuhi mahasiswa. Namun tampak berbeda kali itu, sejumlah mahasiswa sibuk menyiapkan atribut aksi. Mulai dari pengeras suara, kertas karton bernarasi dan sebuah sepanduk besar bertulisan “Aksi Simpatik Parade Amal Puisi atas Tingginya UKT”.

Awalnya massa aksi telah mendapatkan izin dari satuan pengamanan (satpam) untuk melaksanakan aksi di depan Gedung Biro AUAK. Mengambil sebagian bahu jalan utama kampus. Namun, kemudian pihak Biro AUAK menampik. Mereka pun disarankan untuk melakukan aksi di Gazebo. Di bawah instruksi koordintaor aksi, bergeserlah massa tersebut ke Gazebo.

Sekitar pukul 09:00 WIB, aksi dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dipimpin Koordinator lapangan, Zamal Saputra, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Ada sekitar 20 peserta aksi yang berdiri pun bernyanyi.

Zamal Saputra  menetes air matanya, seraya menyampaikan orasi. “Aksi ini adalah ekspresi kami sebagai mahasiswa menanggapi kenaikan biaya UKT mahasiswa baru,” ujarnya.

Peserta aksi kemudian secara bergiliran membacakan puisinya. Diiringi suara gitar. Diselingi penyampaian orasi hingga aksi teatrikal pocong dan makam.

***

Aksi Simpatik memancing perhatian civitas akademika. Berdasarkan pengamatan, mahasiswa-mahasiswa mendekat ke titik aksi. Melihat dan mendengar tuntutan yang digaungkan.

Bahkan beberapa calon mahasiswa baru turut menyaksikan aksi mahasiswa tersebut. Salah satunya Irma Damayanti. Hari itu dia ke kampus untuk mengurus berkas UKT.

Calon mahasiswa asal Teluk Batang Kayong Utara duduk di trotoar jalan. Ia beserta satu orang temannya mengaku memperhatikan aksi mahasiswa.

Irma Damayanti berpendapat setuju dengan tuntutan mahasiswa dalam aksi tersebut. “Alhamdulillah merasa terhibur (dengan adanya pembacaan puisi) liat antusias kakak tingkat, gimana ya pokoknya suke lihatnya,” ujar Irma Damayanti. Kata dia, selama tidak ada keributan dan tidak ada kericuhan serta masih dalam batas normal hal tersebut bisa dimaklumi.

“Lihat semangat kakak-kakak jadi ikut menular semangatnya,” tutur Irma Damayanti saat diwawancara wartaiainpontianak.com.

Irma Damayanti baru tahu isu kenaikan UKT setelah diinformasikan seniornya. “Dibilang UKT sekarang naik karena IAIN mau berubah statusnya menjadi UIN,” tutur Irma Damayanti menceritakan ulang.

Irma Damayanti adalah calon mahasiswa baru yang mendaftar jalur SPMB. “Untuk biaya UKT belum tahu karena masih menunggu pengumuman kelulusan,” katanya. 

***

Mata Misna (45) fokus melihat aksi mahasiswa. Perempuan asal Kabupaten Kayong Utara itu tidak menyangka ada aksi mahasiswa. Ia mengaku datang ke IAIN Pontianak untuk menemani anaknya mengambil nilai. “Anak saya sudah tamat setahun yang lalu. Hari ni mau ngambil nilai sekaligus nemankan tetangga mendaftarkan anaknya kuliah,” kata Misna.

Terkait biaya UKT IAIN Pontianak yang mengalami kenaikan di beberapa golongan, Misna tidak setuju dengan kebijakan  tersebut. “Pemerintah itu yang memilih rakyat, jadi harus meperhatikan rakyat, jangan memerhatikan diri sendiri,” tuturnya.

Jika uang kuliah mahal, kata Misna, pendidikan hanya diperuntukkan bagi anak pegawai negeri atau pejabat. “Kalau bagi petani, jika anak hanya satu yang disekolah iya masih mampu, tapi kalau banyak yang mau disekolahkan, SD, SMP, SMA, kuliah. Bagi yang tak mampu maka anak akan terbengkalai,” ujarnya.

Misna menuturkan siswa tamat SMA tidak bisa jadi pegawai. “Tamat SD jadi alas telapak kaki,” kata dia. “Macam kami di Kayong Utara melamar kerja semacam anjing garuk kepala, masuk situ salah, tidak diterima, masuk situ salah tak mau yang nerima,” ujarnya kesal.

Bagi Misna, punya anak tidak sampai dibangku kuliah itu jadi serba salah. “Dak kuliah tak ada kerja, belum lagi yang tamat kuliah jak susah cari kerja,” tutur Misna yang berprofesi petani itu.

Misna sependapat dengan tuntutan aksi mahasiswa perihal UKT. “Jika dapat itu biayanya seperti awal. Karena inikan sudah negeri, setiap negeri jangan sampai dinaikkan biaya sekolah tu. Karena bukan swasta. Swasta sesuai kalau mahal karena membangun sendiri,” katanya

Hamnah (49) tetangga Misna yang juga turut menyaksikan aksi simpatik mahasiswa mengaku senang. Ia berdua pun duduk di trotoar memperhatikan aksi yang berlangsung. “Kami mendukung mahasiswa (menuntut UKT turun),” katanya.

Meski masih menunggu pengumuman kelulusan anaknya, Hamnah terkejut dengan biaya beberapa golongan UKT yang mengalami kenaikan. “Kemampuan saya untuk menguliahkan anak itu sekitaran 1,5 sampai 1,7 juta persemesternye,” kata dia. Namun apabila kenyataan biaya kuliah anaknya lebih tinggi dari prediksinya maka ia mengaku keberatan.  

“Biaya semester seharusnya lebih memperhatikan kami, apalagi kami dari kampung, kami juga memikirkan biaya hidup anak saya di sini, kebutuhan kuliah, pakaian,” ucap Hamnah.

***

Firdaus Ahcmad, Warek I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Pontianak mengaku mensuport aksi simpatik tersebut. “Artinya kawan-kawan senior ini tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga memikirkan adek-adeknya,” kata Firdaus Ahcmad. Namun dia belum menangkap dasar dari aksi tersebut dengan alasan kebijakan UKT untuk mahasiswa baru bukan untuk mahasiswa lama. “Kenapa  mahasiswa (lama) yang bicara,” tuturnya.

Menurut Firdaus Ahcmad, mahasiswa senior yang terkoordinir dalam organisasi kemahasiswaan bisa ikut berdialog dalam pengambilan kebijakan ini sehingga membantu sosialisasi UKT ini kepada mahasiswa baru.

Mantan Senat Mahasiswa IAIN Pontianak priode 89 ini mengatakan penaikan UKT bukan kebijakan yang serta merta. Tapi diawali dengan kajian-kajian tentang kebutuhan pengelolaan pendidikan. “Pengelolaan pendidikan tidak ada yang murah sekarang. Harga semua pada naik. Tahun ini kita tidak mungkin membayar honor dosen non PNS dan dosen luar biasa itu sama dengan besarnya tahun lalu,” ujarnya saat diwawancara WARTA Senin, (15/7).

Terkait pengelolaan uang UKT itu, Firdaus Ahcmad berkomitmen memperbaiki fasilitas pendidikan. “Sedikit demi sedikit. Yang belum ada AC-nya akan kita adakan,” katanya.

Bersamaan dengan itu pula, pihak lembaga siap meningkatkan kualitas dosen. Firdaus Ahcmad bilang kalau ada dosen yang kurang berkualitas bisa langsung lapor kepadanya.“ “Kita langsung evaluasi,” ujarnya. Namun menurut Warek I itu, sampai saat ini belum ada laporan dosen yang kurang kualitasnya.

Terkait penentuan golongan UKT mahasiswa baru, ketepat sasaran ditentukan berdasarkan pengajuan mahasiswa. Syarat calon mahasiswa baru mendaftar ulang yaitu harus menyertakan surat dukung UKT, rekening litrik, penghasilan orang tua. “Nah dari situ kita rapat untuk menentukan. Kita cek benar tidak ini,” katanya.

Perihal UKT IAIN Pontianak itu, Firdaus Ahcmad menegaskan bahwa masih tergolong rendah. “Murah dari (kampus) yang lain, saya sudah tanya sana-sini,” ujarnya.

Kapasitas Pers Mahasiswa Idealis dan Intelektual

Foto bersama anggota LPM WARTA tahun 2018

hamparan.info – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) WARTA IAIN Pontianak akan menyelenggarakan Musyawarah Besar (Mubes) ke-15 pada Jumat hingga Minggu, 5-7 Juli 2019. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Gedung UPT Teater Biro AUAK IAIN Pontianak.

Ketua Umum LPM WARTA, Farli Afif mengatakan sebagai agenda penutup tiap periode, Mubes ini rutin dilakukan setiap tahunnya menandakan masa kepengurusan telah berakhir dan beralih kepada kepengurusan yang baru sebagai bentuk regenerasi kepengurusan.

Mubes kali ini mengangkat tema:Meningkatkan kapasitas pers mahasiswa yang idealis dan intelektual. Menurut Farli Afif, tema ini diangkat sebagai bentuk tanggapan dalam menyikapi revolusi industri 4.0.

“Hal ini perlu adanya peningkatan kapasitas insan pers mahasiswa khususnya seluruh anggota LPM WARTA IAIN Pontianak,” ujar Farli Afif, Rabu 3 Juli 2019.

Mubes LPM WARTA ke-15 ini akan berlangsung mulai 5 Juli 2019 hingga 7 Juli 2019. Agenda tersebut akan dibuka oleh Wakil Rektor III Dr. Abdul Mukti Ro’uf, MA pada Jumat, 5 Juli 2019 mendatang.

Kegiatan ini mengundang seluruh anggota LPM WARTA IAIN Pontianak, seluruh perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) se-IAIN Pontianak, Presiden Mahasiswa, dan Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama IAIN Pontianak.

Farli Afif menambahkan digelarnya Mubes ini tidak lepas dari poin yang musti dicapai. Di antaranya, mengedukasi anggota baru LPM WARTA terkait agenda Mubes. Bersama-sama meningkatkan pemahaman mengenai esensi dari mubes. “Agar regulasi yang ditetapkan pada mubes bisa dipraktikan dan bukan hanya diindahkan. Kemudian bagaimana menindaklanjuti Pasca diadakannya mubes.

Farli Afif mengatakan sebagai sebuah media pergerakan mahasiswa, LPM WARTA terus berupaya dalam menyuarakan aspirasi masyarakat kampus IAIN Pontianak. Tak hanya itu saja, menurut dia produktifitas juga menjadi hal penting.

“Maka dari itu perlu peningkatan potensi kemampuan para anggota baik secara pemikiran kritis maupun keterampilan. Bahkan tetaplah mengedepankan prinsip independen,”