Generasi Positive Thinking di Keuskupan Sintang

0

hamparan.info-Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia bekerjasama dengan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) melaksanakan Workshop Generasi Positive Thinking (Genposting) di Balai Kenyalang pada Kamis, 1 November 2018.

Even ini mengambil tema “expresikan suka citamu: bermedsos dengan cerdas, santun dan bijaksana” berlangsung selama dua hari yakni 1-2 November 2018.

Workshop yang dibuka oleh Gun Gun Siswadi Staf Ahli Menteri Kominfo RI Bidang Komunitas dan Media Massa tersebut menghadirkan empat orang narasumber yakni Iptu Karim dari Densus 88 Anti Teror yang akan menyampaikan materi tentang Pengaruh Media sosial bagi penyebaran radikalisme dan terorisme di Indonesia, Margareth Astaman Praktisi Sosial Media Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang akan menyampaikan materi tentang hoax dan membangun engagement, Kevin Sanly Putera seorang animator yang menyampaikan materi teknik produksi video 60 detik, Yogi Adriyan yang menyampaikan materi teknik produksi fotografi serta Pastor Kamilus yang merupakan Sekretaris Eksekutif KOMSOS KWI akan menyampaikan materi tentang gereja dan media sosial.

Ketua Panitia Workshop Pastor Petrus Juli menyampaikan workshop diikuti oleh 100 anggota Orang Muda Katolik (OMK) dari 36 paroki di Keuskupan Sintang, kelompok kategorial, asrama pelajar, pastor dan suster.

“Pengguna media sosial menggunakan aplikasi dapat merubah komunikasi dalam bentuk interaktif. Saat ini ada banyak penyalahgunaan media sosial untuk menyebarkan berita palsu yang sangat merugikan masyarakat. Paus Fransiskus juga memberikan perhatian kepada informasi palsu atau hoaks. Hoaks merupakan informasi yang menipu orang lain dengan tujuan tertentu. Untuk itu hoax harus dilawan dan dicegah. Maka workshop ini sangat penting untuk dilakukan,” kata Pastor Petrus Juli.

Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Sintang Pastor Yohanes Pranoto, Pr menyampaikan tujuan akhir dari Workshop ini adalah generasi muda gereja yang pandai memanfaatkan media sosial untuk hal yang positif serta mampu membuat video pendek dan foto yang kreatif.

“Kami berharap para peserta bisa menjadi agen-agen perubahan khususnya dalam hal pemanfaatan media sosial dan pencegahan hoax di setiap paroki yang ada di Keuskupan Sintang. Ilmu yang diperoleh pada workshop ini harus dibawa ke paroki masing-masing untuk disebarkan di sana nanti. Jadi informasi, ilmu dan wawasan tidak hanya berhenti di ruangan ini saja tetapi kami harapkan bisa terus berkembang” kata Yohanes Pranoto, Pr

Gun Gun Siswadi Staf Ahli Menteri Kominfo RI Bidang Komunitas dan Media Massa menjelaskan bahwa anak muda harus dibimbing agar tidak menggunakan informasi untuk memecah belah persatuan.

“Saat ini sangat banyak terjadi, orang saat bangun tidur yang dicari adalah handphone yang mudah-mudahan untuk mencari informasi-informasi yang diperlukan. Kebutuhan pokok manusia sebelumnya adalah sandang, pangan dan papan. dan saat ini kebutuhan pokoknya manusia bertambah yakni informasi. Karena informasi sudah masuk dalam kebutuhan pokok manusia, maka informasi harus di kelola dengan baik,” kata Gun Gun Siswadi, dilansir dalam keterangan resminya.

“Saat ini jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 143 juta orang atau diatas 50 persen penduduk Indonesia. Generasi muda jangan sampai menjadi bagian dari penyebaran informasi bohong. Usia pengguna internet yang paling banyak adalah 50 persen berusia 13-40 tahun. Dan 57 persen pengguna internet mengakses chating dan untuk media sosial,” kata dia.

Dari 143 juta tersebut, 120 juta orang menggunakan aplikasi media sosial. Untuk itu, para pengguna internet harus diarahkan dan dididik. Dia mengingatkan agar pengguna internet untuk saring dulu sebelum sharing informasi. Media sosial merupakan sumber informasi, peluang usaha, dan sarana komunikasi. Jangan digunakan untuk menyebarkan informasi hoaks.

“Workshop ini juga salah satu strategi kami untuk mencegah dan menekan penyebaran informasi hoax. Manfaat media sosial itu sangat banyak dan harus kita manfaatkan dengan baik. Saat ini sudah banyak kasus penyalahgunaan media sosial yang sudah masuk ke ranah hukum. Kita harus menjadi bagian dari solusi dan pencegahan informasi hoaks,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here