Mempawah Mangrove Festival 2018 Ajak Selamatkan Perisai Hijau Kalbar

0
peserta diajak bersih sampah di area hutan mangrove serta pemutaran film edukasi mengenai pentingnya habitat mangrove. (foto: WWF Indonesia)
peserta diajak bersih sampah di area hutan mangrove serta pemutaran film edukasi mengenai pentingnya habitat mangrove. (foto: WWF Indonesia)

hamparan.info-Kelompok masyarakat yang bergerak di bidang konservasi mangrove, Mempawah Mangrove Conservation (MMC) menggelar Mempawah Mangrove Festival (MMF) 2018 pada 25-28 Agustus di kawasan Mempawah Mangrove Park (MMP), Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

MMF dihelat untuk menyuarakan penyelamatan hutan mangrove ke berbagai lini, serta menjadi ajang edukasi dan kampanye kesadaran lingkungan wilayah pesisir. Agenda ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi komunitas peduli mangrove untuk berkumpul dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Selain itu, kesempatan ini juga digunakan sebagai ajang promosi pariwisata Mempawah yang menjadi bagian dalam inisiasi kawasan “Perisai Hijau” Pesisir Utara Kalimantan Barat. Sebuah kawasan yang membentang sepanjang 193 kilometer dari Kota Pontianak hingga pengujung perbatasan Paloh, Kabupaten Sambas.

Istilah “Perisai Hijau” merupakan sebuah gerakan bersama penanaman kembali di lokasi-lokasi rawan abrasi. Ada pula peningkatan kapasitas kelompok lokal dalam pengembangan kawasan menjadi pusat edukasi dan ekowisata berbasis mengrove. Muaranya dapat memberikan dampak ekonomi ke masyarakat sekitar kawasan.

Inisiatif ini bermula pada penanaman mangrove di Desa Karimunting 2009 hingga akhirnya menyebar di banyak lokasi. Termasuk MMP dan Kawasan Mangrove Setapuk Besar yang dikelola Kelompok Surya Perdana Mandiri, Singkawang.
Pembukaan MMF pada 25 Agustus 2018 di halaman Makam Pahlawan Mempawah dihadiri berbagai pihak.

Mereka adalah Pemerintah Kabupaten Mempawah, BPSPL Pontianak, Disporapar Kalbar, FOSSI, Bank BRI, Bank Indonesia, Indofood, WWF-Indonesia, Kelompok SPM, kelompok ibu-ibu penggiat mangrove dari Bakau Besar, Pokmas Pelesir Sengkubang, Universitas Nahdlatul Ulama, Universitas Tanjungpura, dan berbagai komunitas penggiat mangrove di Pesisir Utara Kalbar.

Rangkaian MMF ini juga diisi kegiatan Joint Summer Program (JSP), berkolaborasi dengan International Office Universitas Tanjungpura.

JSP melibatkan mahasiswa dari berbagai negara, seperti National Taitung University (Taiwan), Universitas Brunei Darussalam, Kochi University (Jepang), Universiti Malaysia Sarawak, Universiti Putra Malaysia, Universitas Tanjungpura, Politeknik Negeri Pontianak, dan Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Dalam sambutannya, Ketua MMC Raja Fajar Azansyah menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung MMF 2018. Dia berharap upaya pelestarian mangrove di pesisir utara kian membaik.

“Semoga perisai hijau yang dapat melindungi kawasan pesisir utara Kalbar semakin luas, dan kesadaran semua pihak dalam pelestarian dan penyelamatan mangrove turut meningkat. Sehingga apa yang kita cita-citakan, ekosistem mangrove di pesisir utara sebagai penunjang kehidupan masyarakat dapat tercapai,” ucapnya.

Selepas pembukaan, dilanjutkan dengan sarasehan antar mahasiswa bersama Forum Penggiat Mangrove Pesisir Utara di Rumah Baca MMP. Mengangkat tema diskusi seputar kegiatan restorasi mangrove yang telah dilakukan sejak tahun 2009 hingga saat ini.

Program Manajer Kalimantan Barat WWF Indonesia Albertus Tjiu dalam kesempatannya sebagai moderator sarasehan, memaparkan bagaimana upaya yang dilakukan WWF sejak tahun 2009 dalam menginisiasi Perisai Hijau Kalbar, dengan melibatkan kelompok mitra dan mendorong peran para pihak.

“Secara perlahan, sejak penanaman digiatkan oleh banyak pihak, kawasan pesisir yang sudah rusak mulai kembali pulih. Bahkan ada dua kelompok yang sudah dapat mengembangkan kawasan menjadi pusat edukasi dan ekowisata berbasis mangrove, yaitu MMC dan SPM. Hingga saat ini, lebih dari 200 hektar kawasan pesisir utara Kalbar telah tertanami, dan gerakan ini akan terus dilanjutkan untuk mencapai Perisai Hijau Pesisir Utara Kalimantan Barat,” ujar Albertus, dikutip dalam keterangan rersminya.

Selain sarasehan, panitia MMF juga melakukan penanaman mangrove pada 26 Agustus lalu. Mereka melibatkan 300 peserta dari berbagai forum penggiat mangrove, siswa-siswi di Mempawah, peserta JSP, komunitas Earth Hour Pontianak dan WWF. Sebanyak 5.000 bibit mangrove berhasil ditanam di sekitar kawasan MMP.

Selanjutnya, rangkaian acara diisi dengan berbagai ragam perlombaan yang melibatkan masyarakat dan pelajar. Untuk lebih memeriahkan festival, MMC juga mengadakan pentas seni hiburan untuk pengunjung yang hadir selama acara. Panggung kecil dengan berbagai kreasi hiasan memanfaatkan bahan sisa dari alam semakin menyemarakkan MMF.

Hal yang tak kalah menarik adalah peserta diajak bersih sampah di area hutan mangrove serta pemutaran film edukasi mengenai pentingnya habitat mangrove.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here