Lebih Baik Mandi Keringat, Daripada. . .

0

hamparan.info- Komando Daerah Militer (Kodam) XII/Tanjungpura menggelar Penataran Staf Perancang Latihan (SPL) Batalyon Tim Pertempuran (BTP) Tahun Anggaran 2018, dilaksanakan di Rindam XII/Tanjungpura, Kamis (5/4/2018). Irup pada upacara tersebut Komandan Resimen Induk Daerah Militer (Danrindam) XII/Tanjungpura Kolonel Infanteri Khairul Anwar M juga selaku Pimpinan Umum Penataran.

Dalam amanat Panglima Kodam XII/Tanjungpura Mayor Jenderal TNI Achmad Supriyadi yang dibacakan oleh Danrindam XII/Tanjungpura Kolonel Infanteri Khairul Anwar mengatakan, penataran untuk memberikan kemampuan bagi peserta dalam menyelenggarakan dan merancang suatu latihan, khususnya tentang teknik dan taktik pertempuran masing-masing kecabangan dalam rangka membentuk latihan satuan yang diorganisir sebagai Batalyon Tim Pertempuran dalam tugas-tugas operasi dengan memadukan kerja sama antar kecabangan yang berkesinambungan guna mendukung manuver lapangan satuan Batalyon Infanteri (Yonif) dalam bentuk latihan Batalyon Tim Pertempuran.

Selain itu, dalam amanatnya Panglima Kodam XII/Tanjungpura menyampaikan, bahwa kegiatan penataran adalah untuk meningkatkan kemampuan para penyelenggara latihan, khususnya dalam perencanaan latihan BTP di wilayah Kodam XII/Tanjungpura. Sehingga keluar dari penataran, seluruh peserta dapat menguasai manajemen latihan mulai dari tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan hingga tahap pengakhiran.

“Tentunya dalam penguasaan materi harus menguasai Cara Memberi Instruksi (CMI), mampu menyelenggarakan latihan sesuai dengan buku petunjuk teknik penyelenggaraan latihan, dan memahami tentang pengetahuan Latihan Posko II Batalyon. Juga penataran ini, agar memahami dalam menyelenggarakan teknik dan taktik pertempuran Satpur, Satbanpur dan Satbanmin dalam BTP serta mampu menyelenggarakan aplikasi BTP dengan baik dan benar,” katanya.

Dia mengatakan, bahwa penataran dilaksanakan selama 21 hari, dimulai hari ini, Kamis 5 hingga 26 April 2018 kedepan diikuti 40 personel terdiri dari Perwira dan Bintara jajaran Kodam XII/Tanjungpura. Para petatar dibekali ilmu baik berupa pelajaran teori maupun praktek yang berkaitan dengan aplikasi teknik penyelenggaraan latihan.

Dia berpesan kepada Danrindam XII/Tanjungpura, para Guru Militer dan kepada para Pelatih di lapangan agar melaksanakan setiap tugas yang dipercayakan laksanakan secara sungguh-sungguh, mengikuti pedoman operasional pendidikan yang berlaku, baik dalam pelaksanaan pelajaran teori maupun praktek dan dapat diaplikasikan sesuai keadaan sebenarnya.

Usai melaksanakan upacara para peserta menerima jam Komandan dari Pimpinan Umum Penataran Kolonel Infanteri Khairul Anwar M. Dalam arahannya menyampaikan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan selama 21 hari bila ada materi belum dipahami langsung bertanya pada kegiatan tersebut.

“Bila saat menerima pelajaran belum paham agar ditanyakan langsung kepada para pelatih atau gumil selaku pemangku materi. Sehingga, setelah kembalinya kesatuan masing-masing mampu menyelenggarakan latihan setingkat Batalyon yang diperkuat oleh unsur Satbanpur dan Satbanmin,” katanya.

Kodam XII/Tanjungpura tidak lama lagi pada TW III Tahun 2018, akan melaksanakan latihan BTP Yonif 643/Wanara Sakti. Jadi Gumil dan Pelatihnya para peserta yang ikut sekarang ini akan dilibatkan sesuai dengan kecabangan masing-masing.

Danrindam XII/Tanjungpura selanjutnya menegaskan, latihan merupakan kesejahteraan yang hakiki bagi seorang prajurit. Tidak ada prajurit yang hebat, yang ada adalah prajurit yang terlatih, tanpa latihan, seorang prajurit tidak akan memiliki militansi dan professional dibidangnya.

“Lebih baik mandi keringat di medan latihan, daripada mandi darah di medan pertempuran. Lebih baik mandi keringat pada saat latihan, daripada menangis pada saat pertandingan,” katanya.

Dia mengatakan, perang konvesional juga sudah tidak lagi sesuai dengan cara berkehidupan manusia pada saat ini. Hal ini, yang dilakukan yakni dengan cara perang lainnya seperti, Proxy War. Proxy memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu proksi yang jika diartikan bisa menjadi wakil. Jadi proxy war memiliki arti perang wakil atau perang yang diwakili. Jadi proxy war merupakan sebuah perang dimana pemeran utamanya tidak menggunakan kekuatannya sendiri untuk menyerang musuhnya melainkan mereka menggunakan wakil atau kaki tangannya.

“Sifat dan karakteristik perang telah berubah seiring berkembangnya tekhnologi dan kepintaran umat manusia. Kemungkinan terjadinya perang secara langsung pada jaman ini sangat kecil. Dikarenakan adanya hukum HAM. Namun, dikarenakan adanya tuntutan atau keinginan maka munculah perang-perang jenis baru. Seperti Perang Asimetris, Perang Hibrida, dan Perang Proxy. Akan tetapi perang konvensional harus perlu dipahami juga, karena negara-negara Timur Tengah perang Konvensional masih tetap berlangsung,” katanya.

Dia berharap, para Petatar Penataran SPL BTP dalam OLI (Operasi Lawan Insurjen) TA. 2018. “Setelah penataran ini selesai, jadilah seorang perancang latihan yang mempunyai visi dan misi yang jelas, yakni untuk meningkatkan kemampuan prajurit TNI AD khususnya prajurit Kodam XII/Tanjungpura yang mempunyai kemampuan bertempur di hutan, di gunung, di pemukiman dan segala medan pertempuran, serta mempunyai kemampuan mengusir dan menghancurkan insurjen atau orang-orang yang ingin menghancurkan keutuhan NKRI,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here