Gyproc, Bahan Bangunan Ramah Lingkungan

0
Gyproc, Bahan Bangunan Ramah Lingkungan

hamparan.info – Sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak dikenal juga dengan Kota Khatulistiwa, dan dijuluki “Negeri Seribu Sungai”. Sebagai kota yang dijuluki dengan “Kota Air”, Pontianak mempunyai karakter fisik 80 persen kawasan rawa yang dipengaruhi oleh pasang surut sungai-sungai yang ada. Selain itu kondisi fisik tanah pada sebagian kota di Kalimantan Barat merupakan tanah bergambut.

Kota Pontianak ini juga memiliki kelembaban yang tinggi atau merupakan daerah basah karena kelembaban udaranya antara 99,58 % dan 48,83 %. Menurut FH. Schmidt dan JHA. Ferguson, iklim daerah ini termasuk tipe A atau merupakan daerah basah.

Selain kondisi alam dan iklim di daerah Kalimantan Barat yang cukup unik, kota ini juga terkenal dengan sumber daya alamnya. SDA yang dimiliki oleh Kalbar telah menarik banyak investor untuk datang dan meningkatkan perekonomian serta mengembangkan kota Pontianak sehingga menjadi pusat perdagangan ekonomi. Hal inilah yang kemudian membuat Pontianak menjadi surga baru di bisnis properti. Dengan kekuatan infrastruktur dan bandara internasional Supadio serta pelabuhan sebagai gerbang perekonomian yang menjadi urat nadi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat.

Sektor properti yang agresif dan masuknya perusahaan properti nasional yang mengembangkan dan menawarkan hunian mewah hingga sederhana, membawa dampak yang signifikan terhadap produsen bahan bangunan seperti PT Saint-Gobain Construction Products Indonesia atau dapat juga disebut dengan Saint-Gobain Gyproc Indonesia. Produsen papan gypsum dengan merek Gyproc ini hadir di Pulau Kalimantan, khususnya di Kota Pontianak untuk pertama kalinya.

“Hadirnya Gyproc di Kalimantan Barat guna memberikan edukasi kepada masyarakat Pontianak dan sekitarnya mengenai revolusi papan gypsum yang tak hanya dapat digunakan sebagai plafon namun juga dapat digunakan sebagai dinding, pengganti dinding konvensional seperti batu bata,” ujar Managing Director Saint-Gobain Gyproc Indonesia, Hantarman Budiono, pada saat membuka acara Diskusi Media bersama Gyproc di Kota Pontianak, dalam siaran pers rilisnya yang diterima di Kota Pontianak.

Seperti ketahui, selama ini papan gypsum lebih familiar digunakan sebagai plafon bukan untuk dinding. Namun kini papan gypsum juga bisa diaplikasikan sebagai dinding pada bangunan. Bahkan bisa lebih kuat dibandingkan dinding bata yang memakan waktu penggerjaan cukup lama dan kurang efisien dari sisi cost pembangunan.

Hantarman Budiono menyatakan, bahwa saat ini perlu adanya terobosan, inovasi baru pada bahan bangunan. Terutama pada dinding yang mampu beradaptasi terhadap cuaca baik pada kondisi dingin maupun panas dan ringan sehingga bisa digunakan pada kontur tanah gambut.

“Bahan bangunan adalah salah satu komponen yang sangat penting untuk membangun rumah atau gedung. Pemilihan material yang tepat menentukan kenyamanan dan ketahanan bangunan tersebut. Terlebih Kalimantan Barat merupakan daerah dengan kelembaban yang cukup tinggi sehingga perlu pemilihan bahan bangunan yang tepat,”ujar Hantarman Budiono.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, A Roffie Faturrachman, menyambut positif hadirnya Gyproc di Kalimantan Barat.

“Kehadiran produk gyproc sangat baik bagi perkembangan dunia arsitektur di Kota Pontianak maupun di Kalimantan Barat karena bagi para perancang dan pengembang bangunan mempunyai alternatif lain dalam pembangunan. Selain itu sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan bahan bangunan yang meningkat seiring dengan pertumbuhan bangunan di kota Pontianak,” ujar A Roffie Faturrachman.

Ramah Lingkungan

Saint-Gobain Gyproc Indonesia juga sangat concern terhadap kelestarian lingkungan. Hal itu dibuktikan dengan inovasinya dalam menciptakan produk bahan bangunan ramah lingkungan yaitu drywall system (sistem dinding kering) yang berbahan utama gypsum dan 100 persen dapat didaur ulang, tidak mengandung bahan beracun, serta tidak memerlukan banyak air pada saat konstruksi sehingga dapat menghemat waktu konstruksi hingga 35 persen.

Dengan memakai produk bahan bangunan ramah lingkungan (Green Product) diharapkan ke depannya bangunan-bangunan yang ada di Indonesia dapat menjadi sebuah bangunan berkonsep Green Building.

“Kesepakatan tentang Green Architecture ataupun Green Building sudah menjadi parameter seluruh arsitek yang ada di dunia, termasuk indonesia dan Pontianak, dimana diharapkan dengan besarnya tingkat partisipasi seluruh stake holder yg berkaitan dengan bangunan dalam rangka penerapan Green Building ini akan mengurangi tingkat risiko kerusakan lingkungan, dan pada akhirnya akan memberikan kualitas hidup lebih baik bagi manusia atau penghuni bangunan,” ujar A Roffie Faturrachman.

Berbicara mengenai Gyproc sebagai bahan bangunan ramah lingkungan, Mukhtarudin – Director PT Parahita Parabawa, Distributor Gyproc untuk wilayah Kalimantan Barat menyambut positif kehadiran Gyproc di Pontianak, “Kami turut mengapresiasi masuknya bahan bangunan yang dianggap masih baru yakni papan gypsum dengan teknologi drywall system dari Saint-Gobain Gyproc Indonesia. Karena selain ramah lingkungan, benefit lainnya yaitu mendapatkan manfaat secara wujud fisik dinding yang modern dan berkelas serta efisien dalam cost produksi.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here